Kepala Disnakan Boyolali Lusia Dyah Suciati mengatakan, sudah menerjunkan petugas untuk pemeriksaan kandungan air. Yakni kandungan amoniak.
"Kematian mencapai sekitar 200 ton. Mudah-mudahan sudah selesai, tidak berlanjut lagi (kematian masal). Karena di sini ada sekitar 750 keramba. Populasi kalau full sampai 500 ton. Maka kami antisipasi, untuk ikan-ikan yang selamat kami evakuasi. Dipindahkan ke keramba-keramba yang aman, yang sirkulasinya masih bagus dan populasi ikan di keramba dikurangi," terang dia, Selasa (3/1/2023).
Keramba-keramba yang sudah dibersihkan dan dinilai aman dijadikan lokasi sementara evakuasi ikan. Dia mengamini belum disiapkan keramba khusus. Petani memanfaatkan keramba yang sudah dibersihkan. Termasuk yang awalnya dijadikan lokasi pembenihan. Sedangkan aktivitas perikanan di keramba masih berjalan. Sebab, ini menjadi penghasilan utama masyarakat sekitar.
"Itu memang sudah sering terjadi. Cuma, ini paling banyak. Harusnya, dengan kejadian ini, mereka bisa mengantisipasi di saat-saat musim ekstrem. Iklimnya seperti ini kalau sudah layak dipanen saja untuk mengurangi populasi dan pakannya. Karena pakan ini jika terlalu banyak, sisanya bisa memfermentasi menjadi amoniak itu," sarannya.
Lusi juga mengimbau agar petani menabur ikan sesuai kapasitas ideal karamba. Sebab, jika populasi ikan berlebih, akan berimbas pada populasi. Apalagi di musim ektrem seperti ini, petani harus berinisiatif memanen lebih awal. Guna mengantisipasi terjadinya upwelling ini.
Di sisi lain, Disnakan telah melaporkan kejadian ini kepada Bupati, provinsi dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Agar bisa diupayakan untuk pemberian bantuan.
Sub Koordinator Produksi Budidaya Bidang Perikanan Disnakan Boyolali Deviet Nur Maryani mengatakan, fenomena upwelling ini menyebabkan banyak ikan keracunan. Lantaran terjadi pergeseran air di dasar naik ke permukaan dan sebaliknya. Karena perbedaan suhu yang sangat signifikan. Air dari dasar WKO membawa amoniak dan bahan organik lain yang meracuni ikan.
"Upwelling tidak akan bermasalah jika ekosistem WKO berjalan normal. Tapi kita lihat, daya dukung dari WKO sudah kurang ya. Jadi itulah salah satu penyebab ketika terjadi upwelling banyak kematian (ikan). Kemudian kami melakukan parameter kualitas air ini, untuk mengetahui sejauh mana kualitas perairan di WKO ini," terangnya.
Menurut dia, upwelling sudah merepresentasikan kualitas air yang buruk. Tim sudah mengambil empat titik sampel air di pinggiran waduk. Hasilnya, semua sampel dinilai layak, baik dari segi PH, nitrit dan fosfat. Sedangkan hasil pemeriksaan air di tengah waduk belum diketahui. Serta baru dilakukan pengecekan. Devi mengaku, pendampingan pada petani karamba sudah dilakukan.
"Sebenarnya mereka sudah tahu jika akan terjadi upwelling. Karena mereka sudah hafal tanda-tandanya. Kami sudah imbau panen dini. Lalu waktu-waktunya sudah tahu, setiap Juni-Juli pasti terjadi. Tapi, waktu Desember ini memang baru pertama kali terjadi upwelling," katanya.
Kades Wonoharjo, Kemusu, Sulistiyah berharap ada bantuan untuk para petani keramba. Apalagi jumlah ikan yang mati terus bertambah. Padahal selama ini perawatan ikan di keramba cukup mahal. Seperti kebutuhan pakan ikan untuk satu sak mencapai Rp 500 ribu sekali tabur. Sehingga tiga kali pemberian makan bisa menghabiskan hingga Rp 1,5 juta. Sedangkan masa panen tiga bulan. Padahal tak sedikit petani yang berhutang untuk modal usaha keramba.
"Belum ada (bantuan, Red). Dari disnakan sudah datang untuk mengecek. Ya, harapannya ada bantuan. Berat bagi petani, karena pada mati tidak ada pemasukan bagi petani," katanya.
Ikan-ikan yang selamat dan mendekati usia lantas dipanen demi menekan kerugian. Karena ikan-ikan tersebut sebenarnya untuk cadangan awal tahun ini. Sedangkan ikan-ikan yang mati langsung dievakuasi dan dikubur. Agar tidak mencemari air waduk dan membahayakan ekosistem.
Kematian massal ikan di karamba terjadi pada Sabtu malam (31/12) hingga Minggu (1/1) dini hari. Awalnya, ikan yang mati sebanyak 175 ton milik 34 petani karamba. Lalu bertambah lagi hingga 25 ton pada Selasa (3/2) dari total 37 petani ikan. Sehingga total ikan yang mati mencapai 200 ton. (rgl/bun/dam) Editor : Damianus Bram