Hasil evaluasi Dinas Perternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali, banyak faktor penyebab terjadinya upwelling. Mulai dari faktor cuaca, endapan sisa pakan dan kotoran yang menumpuk, serta jumlah keramba jaring apung (KJA) yang dinilai terlalu rapat.
Kepala Disnakan Boyolali Lusia Dyah Suciati mengatakan, fenomena upwelling, pekan lalu di luar siklus. Karena biasanya terjadi pada periode Juni sampai September saat pergantian musim. Sehingga petani keramba menilai sudah aman. Namun di luar dugaan upwelling terjadi di akhir tahun. Padahal saat itu, stok ikan siap panen melimpah. Karena akan dikeluarkan saat tahun baru.
Menurutnya, upwelling tahun ini begitu parah karena dipicu beberapa faktor. Pertama cuaca buruk karena hampir satu minggu tidak ada sinar matahari. Sehingga suhu air dingin dan terjadi upwelling. Kemudian, dipicu sedimentasi pakan dan kotoran ikan yang mengendap di dasar waduk. Sehingga menghasilkan banyak amoniak yang meracuni ikan.
”Karena ini sudah terlalu parah baik cuaca maupun sedimennya, perlu dikaji dari kedalaman, kualitas air. Kemungkinan juga terlalu padat (KJA,Red) melebihi daya dukung lingkungannya,” terangnya ditemui di kantornya, Kamis (5/1/2023).
Saat ini, ada sekira 750 KJA di WKO Boyolali yang terpusat di Wonoharjo. Karena kedalaman waduk mendukung, KJA menggunakan sistem dua jaring alias tumpang sari. Jaring paling dalam diisi ikan nila. Sedangkan jaring di atasnya diisi ikan mas. Menilik jumlah keramba dan ikan, otomatis jumlah pakan yang ditabur bisa berton-ton setiap harinya.
”Intinya kejadian ini yang terberat dari kejadian-kejadian sebelumnya. Karena upwelling ini 2018 pernah terjadi, 2009 juga terjadi. Tapi diberi pompa air itu bisa mengurangi kematian, tapi kejadian ini, pompa air ini belum bisa mengantisipasi sepenuhnya,” katanya.
Kejadian ini menjadi evaluasi bagi Pemkab Boyolali. Pihak telah mengirimkan surat pada kementerian kelautan dan perikanan (KKP) provinsi. Pihaknya juga mengirimkan surat permohonan ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana. Guna dilakukan pengkajian terhadap daya dukung waduk.
”Kewenangan pengelolaan kan di BBWS. Kami bersurat untuk meminta pengkajian daya dukung waduk, apakah KJA yang di sana itu sudah melebihi kemampuan. Itu juga berlaku untuk Waduk Cengklik,” terangnya.
Kabid Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali Nurul Nugroho menambahkan, sengaja melakukan pemeriksaan kadar air di Waduk Cengklik. Lantaran siklus upwelling ini juga menimpa peraian waduk dengan pertanian KJA. Pada 2020 lalu, Waduk Cengklik pernah dilanda upwelling dengan jumlah kematian ikan mencapai 30 ton.
”Supaya tidak terulang kami juga lakukan uji kualitas air,” tandasnya. (rgl/adi)
HASIL PENYELIDIKAN UPWELLING WKO
- Fenomena upwelling di luar siklus.
- Keramba jaring apung terlalu rapat.
- Sedimentasi pakan ikan dan kotoran sangat banyak, sehingga memicu gas amoniak berlebihan.
- Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali mengirim surat ke Kementerian Kelautan dan Perikanan; dan Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana.
Sumber: Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali Editor : Damianus Bram