Sumanto, salah seorang perajin tembaga dusun setempat menuturkan, pada akhir 2022, harga bahan tembaga naik hingga 60 persen. Untuk mendapatkannya, perajin mengandalkan impor, sehingga ketika nilai tukar dolar naik, bahan baku tembaga ikut terkerek.
"Untuk bahan tembaga ketebalan 0,3 milimeter, per meter Rp 3 juta, yang 0,8 milimeter Rp 2,5 juta, sedangkan 0,6 milimeter Rp 1.850.000," ujarnya Minggu (8/1/2023).
Meskipun harga bahan baku tembaga selangit, para perajin tetap membelinya agar tidak mengecewakan konsumen. Tapi sayangnya, order belum pulih benar akibat terimbas pandemi. Strategi yang digunakan perajin, yakni menekan keuntungan. "Misalnya dulu untung Rp 10 ribu, sekarang paling Rp 6 ribu sampai Rp 7 ribu, kata Sumanto.
Sekretaris Muda Tama Gallery 2, Kupo, Tumang, Cepogo, Boyolali Aji Prasetyo mengatakan, selain masih terdampak pandemi, penurunan penjualan kerajinan tembaga juga disebabkan ancaman resesi ekonomi dunia di tahun ini. Pengunjung yang datang ke Tumang hanya untuk berwisata.
"Penurunan penjualannya sampai 50 persen. Akhir-akhir ini, mayoritas tamu cuma ampiran (mampir) rekreasi dari Cepogo dan Selo. Itu hanya pasar lokal," katanya. (rgl/wa) Editor : Tri Wahyu Cahyono