Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Ungkap Sejarah, 3 Cagar Budaya di Boyolali Jadi Prioritas Ekskavasi

Tri wahyu Cahyono • Senin, 16 Januari 2023 | 00:43 WIB
Lokasi penemuan prasasti situs Watu Genuk di Desa Kragilan, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
Lokasi penemuan prasasti situs Watu Genuk di Desa Kragilan, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID-Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali kembali menganggarkan untuk kegiatan kajian dan ekskavasi cagar budaya. Bidang Kebudayaan mengalokasikan Rp 400 juta. Ada tiga cagar budaya yang akan digarap. Namun, pelaksanaannya menunggu persetujuan Bupati Boyali M. Said Hidayat

Pamong Budaya, Bidang Kebudayaan, Disdikbud Boyolali Sumarjo mengatakan, pihaknya telah menganggarkan untuk kegiatan pelestarian cagar budaya. Berupa kajian arkeologi dan ekskavasi.

Ada tiga cagar budaya yang menjadi prioritas, yakni situs Candi Watu Genuk di Desa Kragilan, Kecamatan Mojosongo; situs Watu Serut di Desa Tlawong, Kecamatan Sawit, serta situs batu prasasti Wonosegoro, di Desa Wonosegoro, Kecamatan Cepogo.

"Tinggal menunggu persetujuan bupati saja. Kalau sudah disetujui, kami akan menggandeng Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng," terangnya, Minggu (15/1/2023).

Menurut Sumarjo, ekskavasi situs Watu Genuk dilanjutkan tahun ini dengan anggaran Rp 200 juta. Sesuai arahan BPCB, ekskavasi tahap ketiga sudah menunjukan struktur fondasi candi. Struktur batu fondasi bagian tengah dan atap dinilai lengkap, sehingga dimungkinkan untuk dilakukan studi kelayakan. Dilanjutkan studi teknis arkeologi untuk pemugaran.

"Tindaklanjut di situs Watu Genuk, kami menunggu rekomendasi dari BPCB Jateng," katanya.

Untuk ekskavasi situs Watu Serut dianggarkan Rp 100 juta. Dalam kegiatan ini, disdikbud menggandeng BPCB. Sebelumnya, ekskavasi di Watu Serut sempat menjadi polemik. Lantaran belum ada izin ekskavasi dari BPCB Jateng.

Selanjutnya, ekskavasi situs Wonosegoro dianggarkan Rp 100 juta. "Tiga tempat cagar budaya tersebut akan diekskavasi semuanya. Waktunya belum ditentukan. Tapi diagendakan tahun ini. Khusus situs Wonosegoro, batunya tidak dipindahkan. Rencananya dibuatkan pagar dan atap penutup di sekeliling batu tulis untuk menghindari aus. Namun, belum teranggarkan," terang Sumarjo.

Diberitakan sebelumnya, Pamong Budaya Ahli Muda BPCB Jateng Eri Budiarto mengatakan, ekskavasi tahap ketiga di situs Watu Genuk telah menampakan sudut-sudut bangunan candi perwara. Ekskavasi juga bertujuan mencari ketinggian batas tanah permukaan asli pada saat situs digunakan.

Diketahui, situs Candi Watu Genukterdiri dari satu candi utama dan tiga candi perwara atau pengiring. Candi utama menghadap ke barat dengan pintu keluar di sebelah barat. Permukaan tanah di candi utama lebih tinggi dengan ukuran lebih besar. Sedangkan tiga candi perwara menghadap ke timur.

Kompleks situs ini dikelilingi dengan pagar batu-batu gundul atau kali. Hal tersebut dilihat dari fondasi pagar yang masih tersisa. Untuk bagian atas pagar keliling sudah hancur. Sedangkan ketinggian candi belum bisa diprediksi. Karena harus dilakukan kajian studi kelayakan.

Jika hasilnya ada rekomendasi untuk dipugar atau direstorasi, maka bisa dilanjutkan dengan studi teknis arkeologis.

"(Ada) potensi untuk dipugar, karena bagian atap, tubuh, bawah (fondasi) masih ada. Memang batu-batu ini juga diambil warga untuk patok sawah. Maka kami koordinasi dengan disdikbud dan pemerintah desa untuk mengambil kembali batu-batu yang diambil warga, sehingga ketika direkonstruksi ulang masih bisa, karena termasuk komplet," pungkasnya. (rgl/wa) Editor : Tri Wahyu Cahyono
#ekskavasi #cagar budaya #Boyolali #Situs Watu Genuk #benda cagar budaya #sejarah