Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Disnakan Boyolali: Jangan Buru-buru Jual Sapi Tertular LSD, Harga Anjlok Separo

Tri wahyu Cahyono • Senin, 23 Januari 2023 | 00:58 WIB
Ilustrasi pengobatan sapi di pasar hewan Jelok, Cepogo belum lama ini. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
Ilustrasi pengobatan sapi di pasar hewan Jelok, Cepogo belum lama ini. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID-Penyebaran lumpy skin deseases (LSD) ke hewan ternak menjadi perhatian Pemkab Boyolali. Upaya pengobatan terus digencarkan. Peternak diminta sabar dan tidak tergesa-gesa menjual hewan ternak yang terpapar LSD. Sebab, harga jualnya bisa anjlok hampir separo.

Kabid Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Perternakan (Disnakan) Boyolali Afiany Rifdania menjelaskan, pihaknya telah mengajukan 10 ribu dosis vaksin LSD ke Provinsi Jateng.

Sapi yang terjangkit LSD, imbuh Afiany, mengalami penurunan berat badan, kekurusan lantaran tidak nafsu makan. Hal tersebut akan berpengaruh pada produksi susu, kerusakan kulit permanen, hingga penurunan atau kehilangan fertilitas pada sapi jantan maupun betina.

"Di Boyolali itu, ada 161.168 ekor ternak yang terdampak LSD. Terdiri dari populasi sapi perah ada 62.387 ekor, sapi potong 98.096 ekor, dan kerbau 655 ekor. Kami juga hitung dari segi penjualan sampai produksi susunya," katanya, Minggu (22/1/2023).

Sapi yang terkena LSD akan menurunkan nilai jual sapi hingga 47 persen dari harga normal. Jika asumsi normal harga sapi Rp 18 juta per ekor, bisa turun menjadi Rp 9,5 juta.

Lalu produksi susu juga berpotensi turun hingga 65 persen. Padahal satu ekor sapi perah bisa menghasilkan 10 liter dalam sehari, sedangkan angka kematian akibat LSD cukup rendah, yaitu 0-10 persen.

Berbeda dengan PMK, karakteristik penyembuhan LSD lebih lama. Sebab, LSD menyerang kulit sapi. Bahkan kasus terparah, juga membuat daging sapi terjangkit LSD, berbentol-bentol merah. Meskipun aman dikonsumsi, tapi menurunkan nilai jual. Karena kondisi daging dianggap tidak segar.

Lebih lanjut diungkapkan Afiany, peternak cenderung panik. Begitu ada ternak yang terjangkit LSD, buru-buru dijual meskipun harganya anjlok hampir separo.

"Penyembuhannya lama, karena kan hampir permanen ya, luka bekas cacarnya itu. Tapi memang bisa sembuh. Asalkan peternak itu sabar, kami bantu melakukan pengobatan. Beberapa kasus sudah sembuh, sudah mulus lagi. Tapi perlu waktu, kira-kira satu bulan," jelasnya.

Penyembuhan LSD bisa dipercepat, yaitu dengan memberikan makanan yang bergizi pada ternak. (rgl/wa) Editor : Tri Wahyu Cahyono
#anjlok #Boyolali #LSD #sapi #disnakan #harga