Dimensi dahan yang tumbang lebih dari 30 sentimeter dan menimpa teras rumah, warung makan, dan sepeda motor. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Kerugian materi diperkirakan Rp 57 juta.
Rejo Witono, 83, warga setempat sekaligus juru kunci mengamini bahwa pohon bulu yang menjulang di dekat gedung SDN Kebon Gulo itu dikeramatkan.
“Usianya sudah ratusan tahun. Dahan yang tumbang menimpa warung nasi goreng dan teras rumah anak saya, Sumadi. Sebenarnya, malam sebelum kejadian, saya sudah mimpi dan perasaan saya nggak tenang,” ujarnya.
Apa pesan dalam mimpinya? Rejo menyebut, ada seseorang yang memintanya, bersama anak dan cucunya pergi ke Jakarta.
Pesan tersebut diartikan Rejo agar untuk sementara menjauh dari pohon bulu tersebut.
"Sebelum kejadian saya pun minta kendaraan dan mbah putri (istri Rejo) segera keluar rumah. Mbah e arep ngedunke kayune (si penunggu pohon akan menurunkan kayu)," ungkapnya.
Tak disangka, tepat pukul 23.05, salah satu dahan pohon bulu tumbang. Beruntung tidak ada korban jiwa atau luka. Karena seluruh anggota keluarga Rejo sudah diminta keluar rumah.
Selain itu, selama ini, ketika dahan pohon bulu tumbang, belum pernah sampai mencelakai warga.Sementara itu, Sumadi menuturkan, dahan pohon menimpa sepada motor Honda Vario nomor polisi AD 3558 KD yang baru dibelinya enam bulan lalu. "Hancur total. Harganya Rp 26,7 juta, sudah tak bisa gunakan lagi," jelas dia.
Namun Sumadi sedikit lega karena telah memindahkan mobil pikapnya sesuai perintah sang ayah. Jika tak dilakukan, bisa jadi kendaraan tersebut ikut remuk.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Boyolali Suherman mengatakan, akibat kejadian tersebut, kerugian materi senilai Rp 57 juta.
"Tim reaksi cepat (TRC) dan warga bergotong royong membersihkan dahan yang tumbang,” jelas dia.
Ditambahkan Suherman, pohon bulu sudah berumur. Di sekelilingnya banyak rumah warga. Batang pohon yang masih berdiri cukup tinggi dalam kondisi lapuk.
"Mendesak dilakukan perampingan. Dibutuhkan mobil crane yang bisa menjangkau dahan yang tinggi dan potensi roboh," pungkasnya. (rgl/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono