Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Petani Mawar Gagal Panen, Harga Bunga Tabur di Boyolali Tembus Rp 225 ribu per Keranjang

Tri wahyu Cahyono • Kamis, 9 Maret 2023 | 00:31 WIB
Transaksi perdagangan bunga tabur di pasar kembang Dusun Magersari, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Rabu (8/3/2023). (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
Transaksi perdagangan bunga tabur di pasar kembang Dusun Magersari, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Rabu (8/3/2023). (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID-Jelang Ramadan, masyarakat lereng Gunung Merapi-Merbabu mempunyai tradisi khusus, yakni ziarah kubur dan tradisi sadranan tiap Ruwah dalam penanggalan Jawa. Permintaan bunga tabur pun melonjak. Tapi ketersediaan stok minim akibat petani bunga mawar gagal panen. Kondisi tersebut mendongkrak harga bunga tabur tembus Rp 225 ribu per takar atau keranjang.

Bejo, pedagang bunga mawar di pasar kembang Dusun Magersari, Desa Sruni, Kecamatan Musuk menyebut harga bunga mawar fluktuatif. Namun, cendrung stabil tinggi.

"Harga bunga mawar (per Rabu 8/3/2023) Rp 200 ribu per takar. Kalau yang oncot (bungkus,red) Rp 400 ribu-Rp 450 ribu," ujarnya.

Memang jelang Ramadan, menjadi berkah bagi petani bunga mawar terutama di Desa Cluntang, Sruni, Kembangsari, Ringinlarik di Kecamatan Musuk, serta Desa Mriyan, Lanjaran di Kecamatan Tamansari.

"Kembang dari sini (Boyolali) dijual sampai Jogjakarta. Harga setiap hari berbeda-beda. Pagi ke sore saja bisa beda. Memang kalau Ruwah, permintaan naik," terang Bejo.

Slamet, petani bunga mawar asal Sruni mengatakan, mahalnya bunga mawar karena pasokan tidak maksimal. Banyak petani mawar mengalami gagal panen. Saat mawar mulai kuncup, bunganya membusuk dan rontok sebelum mekar.

"Ya banyak petani yang sambat (mengeluh,red) tanamannya rusak," keluhnya. (rgl/wa) Editor : Tri Wahyu Cahyono
#ruwah #panen gagal #Bunga Tabur #Sadranan #bunga mawar