Setiap pukul 03.00, Jumiyem sudah beraktivitas di dapurnya. Tungku tanah liat digunakan untuk memasak bubuk. Sedangkan kompor gas digunakan untuk memasak lauk pauk dan menggoreng mendoan. Jika asap sudah membumbung dari dapur rumah, sang ibu yang sudah tua akan membantu menggoreng mendoan. Tapi, pagi itu, tak ada asap membumbung dan aktivitas apapun di dapur. Sang ibu juga tak datang ke rumah korban karena mengira tak berjualan.
Setiap pagi, warung bubur korban sudah buka sejak pukul 05.00. Biasanya, warung bubur buka ditandai dengan pintu depan yang terbuka. Tapi hingga pukul 06.30, pintu masih tertutup tapi tak terkunci. Hingga sang kakak ipar, Suyati, 71, berniat membeli gula pasir ke tempat adiknya tersebut. Rumahnya berada disamping rumah korban. Beberapa kali dia memanggil -manggil nama adiknya sekitar pukul 06.30. Namun, tak ada sahutan. Sang kakak lantas masuk ke dalam dan menuju dapur.
"Tadi mau beli gula. Jualannya kan di depan, tapi nggak ada. Jadi saya ke belakang. Biasanya memang kalau nggak ada di depan ya di belakang," katanya saat ditemui di lokasi.
Saat ditemukan, dia melihat korban sudah dalam kondisi tengkurap dan bersimbah darah. Dia langsung berteriak dan menghampiri suaminya yang juga kakak kandung korban, Genyo. Dia memberitahukan kejadian itu.
"Saya kaget. Karena sebelumnya tak mendengar ada cekcok atau keributan di rumah. Saya terakhir melihat korban pada Rabu (5/4/2023) siang kemarin," terangnya.
Tetangga yang juga ibu ketua RT, Suwarmi, 41, mengaku bertemu korban terakhir kali pada Rabu (5/4/2023) siang. Saat itu, korban datang ke pekarangan rumahnya untuk membeli sayur. Dia sempat berbincang terkait sayuran yang ingin dimasak. Terkadang, korban juga membeli tempe dan tahu yang akan dimasak mendoan untuk dijualnya lagi.
"Selama ini kalau jualan bubur laris terus. Biasanya buka dari pukul 05.00, kalau bangun masak ya jam 03.00. Memang jadi jujugan, yang beli macam-macam orang, laki-laki perempuan," katanya.
Selama ini korban memang dikenal baik. Meski jarang keluar rumah, namun, korban selalu aktif dalam kegiatan lingkungan. Baik dalam kegiatan ibu-ibu atau PKK dan bapak-bapak. Karena suaminya sudah meninggal lama, sehingga korban menggantikan peran suaminya di lingkungan dusun. Tak hanya itu, korban juga dikenal hemat dan pintar menyisihkan uang. Hasil jualannya selalu ditabung dan dibelikan barang-barang berharga. Seperti perhiasan hingga bisa membangun rumah.
"Memang orangnya setiti, pinter ngelola uang. Kalau sudah ngumpul ya dibuat bangun (rumah), dibuat beli perhiasan. Memang dia ini suka pakai emas-emasan besar-besar. Kalung, gelang, cicin besar-besar dan sering dipakai. Ya kalau cerita harganya sampai belasan juta," katanya.
Tetangga korban, Siti, mengingat sosok Jumiyem yang cukup setiti dan dermawan. Begitu menerima kabar tetangganya tersebut meninggal dunia, dia langsung mendatangi rumah korban. Saat itu, dia sudah menemukan korban tengkurap dengan kondisi bersimbah darah. Saat itu, memang belum ada aktivitas memasak. Tungku kayu bakar juga tidak ada bekas pembakaran.
"Belum masak-masak. Soalnya tadi sayurnya mocar-macir (berserakan, Red). Sayur kol sudah dipotong-potong. Pas datang memang sudah banyak orang," katanya.
Kades Gubug, Cepogo, Moh Hamid, langsung mendatangi lokasi begitu menerima informasi tersebut. "Saya posisi di rumah, terus saya ditelepon Mas Warjo (warga) dan carik (sekdes), itu sekir pukul 06.56. Saya langsung datang ke lokasi. Posisi sudah banyak warga, pintu depan warung, samping dan belakang dapur sudah terbuka," ungkap dia.
Dia menerangkan, mayat korban ditemukan kali pertama oleh warga setempat yang juga kakak ipar korban, Yati. Saat itu, saksi akan membeli gula ke warung korban. Karena tak mendengar sahutan dari korban, Yati lantas masuk ke dalam rumah untuk mencari korban sekitar pukul 06.30. Tak disangka, korban sudah dalam keadaan tengkurap dengan bersimbah darah.
"Saksi histeris dan kaget. Langsung teriak. Ditemukan ya yang di sana tadi, di dapur, ada di ruang belakang itu tadi belum diubah-ubah. Dia langsung memanggil keluarga dan warga. Kejadian ini langsung dilaporkan ke polsek," terangnya. (rgl/bun/dam) Editor : Damianus Bram