Kepala Pusat Studi Bencana, LPPM Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof. Dr. Chatarina Muryani, menjelaskan Gunung Merapi merupakan gunung berapi yang aktif di Indonesia. Ada beberapa perilaku erupsi gunung api. Di antaranya, sifat magma termasuk komposisi kimia, kekentalan, kandungan gas dan air. Kemudian, struktur dan dimensi pipa saluran magma dan posisi serta volume kantong magma yang menentukan besarnya pasokan. Sedangkan suplai magma Merapi dari kedalaman terkait dengan sistim tektonik. Yaitu subduksi oleh tumbukan antara lempeng samudera Indo-australia dan lempeng benua Asia.
"Dalam zona subduksi, pada kedalaman antara 60-150 km, terjadi pelelehan karena tekanan dan suhu tinggi. Kedalaman zona pelelehan, tingginya tekanan dan suhu memengaruhi jenis atau komposisi kimia magma primitif. Tiga parameter ini menyebabkan gunung api-gunung api di Indonesia mempunyai magma yang komposisinya berbeda satu sama lain," terangnya pada Jawa Pos Radar Solo.
Letusan Gunung Merapi termasuk tipe Vulkanian. Istilah ini berasal dari nama gunung Vulcano yang terletak di kepulauan Lipar Italia. Erupsi bersifat eksplosif dengan tingkat eksplosivitas dari lemah ke katastropik. Magma yang membentuk erupsi tipe vulkanian bersifat antara basa dan asam dari andesit ke dasit. Erupsi terjadi karena lubang kepundan tertutup oleh sumbat lava atau magma yang membeku di pipa magma setelah kejadian erupsi. Sehingga perlu tekanan relatif besar untuk membuka lubang kepundan yang tersumbat lava.
Hal tersebut bisa melontarkan material hancuran dari puncak gunung api. Namun, juga material baru dari magma yang keluar. Erupsi vulkanian menunjukan asap yang membumbung tinggi ke atas dan kemudian asap tersebut melebar menyerupai cendawan. Asap erupsi membawa abu dan pasir yang kemudian akan turun sebagai hujan abu dan pasir. Tidak seperti tipe hawaiian dan strombolian, aliran lava tidak terjadi pada tipe erupsi vulkanian. Gunung Merapi merupakan gunung api yang dengan tipe vulkanian lemah. Ciri khas terlihat adanya peranan kubah lava dalam tiap-tiap erupsinya.
"Sejarah letusan Merapi mungkin sudah terjadi sejak berabad yang lalu, namun belum tercatat secara sistematis. Untuk Merapi sendiri selama ini super aktif. Dan itu pembentukan dapur magmanya, melelehnya (lava) itu terus. Jadi Merapi potensi meletus masih, cuma meletusnya lemah atau agak keras tergantung. Merapi itu tipe gunung yang ada sumbat lavanya. Jadi magma yang meleleh sedikit-sedikit lalu ada yang menyubat. Itulah yang dinamakan sumbat lava," terangnya.
Kemudian, tekanan dari dalam perut Merapi juga cukup tinggi. Namun, seberapa kuat tekanan dalam bumi tersebut bisa mengangkat sumbat lava tersebut yang membuat tingginya letusan merapi. Selain itu, Merapi juga memiliki siklus-siklus letusan dari skala besar lalu terkadang rendah. Catatan dari erupsi 1768 - 2010, Merapi dua kali mengalami letusan besar. Yakni, pada pertengahan abad 19 antara 1985 - 1900 dan 2010.
Dampak letusan Merapi juga membuat beberapa dusun di sebuah desa menghilang. Rujukan sejarah, pada 1930 satu Dusun Seluman di Desa Sidoarjo, Klaten. Dusun berjarak 4,3 kilometer arah tenggara dari puncak Merapi tersebut menjadi kampung yang musnah. Saat ini, wilayah yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi itu dipenuhi rumput dan pepohonan. Berdasarkan cerita turun-temurun di kalangan warga Sidorejo, tidak ada penduduk Seluman yang selamat dari bencana tahun 1930 itu.
Warga kampung yang tersisa adalah mereka yang saat erupsi sedang tidak berada di kampung. Letusan itu mengubur 13 desa, merenggut jiwa 1.369 orang dan 2.100 ternak. Endapan lahar mencapai ketebalan 10 meter. Sementara abu vulkanik setebal 40 sentimeter dan hujan lumpur mencapai Kota Jogjakarta. Padahal, Kota Jogjakarta berjarak 30 kilometer garis lurus dari puncak Merapi.
"Dahsyatnya erupsi Merapi pada 1954 pernah meluluhlantakkan sebuah dusun di Desa Klakah, Kecamatan Selo, Boyolali. Kini, Dusun Pencar berjarak sekitar 2 kilometer dari Gunung Merapi ini tak lagi menjadi permukiman warga. Lalu empat desa di Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang yang terdampak erupsi Gunung Merapi pada 1961. Saat ini tak berpenghuni lagi. Status empat desa tersebut, yakni Desa Ngimbal, Desa Brubuhan, Ngori, dan Kali Gesik secara administrasi juga telah dihapus oleh Pemprov Jawa Tengah," terangnya.
Kemudian, letusan Merapi pada 1994 juga menewaskan 43 warga Turgo. Dusun itu ditutup dan dijaga aparat militer serta kepolisian. Warga dipaksa mengungsi dan dilarang kembali. Namun, larangan itu dilawan. Warga tetap kembali sekalipun dusun mereka hancur dilanda awan panas. Keganasan letusan Merapi tak berhenti disitu. Pada 2010, tepatnya 5 Mei 2011 dampak erupsi membuat Bupati Sleman mengambil keputusan tegas. Dalan Peraturan Bupati Sleman Nomor 20 Tahun 2011 tentang Kawasan Rawan Bencana Gunung Api Merapi.
Peraturan itu menyatakan Pedukuhan Pelemsari, Pangukrejo, Kaliadem, Petung, Jambu, Kopeng, Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul, dan Srunen terlarang bagi hunian. Namun, tak ada kejelasan tentang status hak atas tanah warga di pedukuhan yang harus dikosongkan dari hunian tersebut. Tingginya korban jiwa dari erupsi-erupsi Merapi sebelumnya dipengaruhi berbagai faktor. Selain teknologi juga karena kepercayaan pada kearifan lokal masyarakat. Kepercayaan tersebut terkadang membuat masyarajat enggan mengungsi.
"Rendahnya pengetahuan masyarakat, minimnya teknologi komunikasi di masa lalu dan terikatnya masyarakat akan kepercayaan mistis menjadi faktor banyaknya korban erupsi Merapi. Seiring perkembangan teknologi informasi maka kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat semakin tinggi. Di lereng Merapi telah terbentuk forum-forum pengurangan risiko bencana (FPRB) yang secara aktif berperan dalam pengurangan risiko bencana erupsi gunung Merapi," pungkasnya. (rgl/bun/dam) Editor : Damianus Bram