Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

85 Sanggar Seni Tumbuh Berkembang di Boyolali: Tak Sekadar Tontonan, juga Wujud Katresnan

Damianus Bram • Rabu, 26 April 2023 | 18:00 WIB
MEMBELUDAK: Pagelaran Tari Jangkrik Ngentir di Dusun Wonosegoro, Desa/Kecamatan Cepogo yang dipadati masyarakat yang menonton. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)
MEMBELUDAK: Pagelaran Tari Jangkrik Ngentir di Dusun Wonosegoro, Desa/Kecamatan Cepogo yang dipadati masyarakat yang menonton. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)
RADARBOYOLALI.COM - Minat masyarakat terhadap kesenian daerah cukup tinggi, ini diwujudkan dalam berbagai hal. Ada yang mengikuti sanggar, atau membuka kelas-kelas seni. Banyak yang menikmatinya, baik sekadar hiburan maupun ikut guyub nguri-uri kebudayaan.

Tercatat ada 85 sanggar seni berdiri di Kota Susu. Sanggar-sanggar tersebut di bawah naungan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali. Salah satu misinya, jelas untuk melestarikan kebudayaan dan tradisi setempat masyarakat Boyolali.

Kabid Kebudayaan Disdikbud Boyolali Biyanto mengatakan, pelestarian pagelaran seni didukung penuh oleh pemkab. Berbagai jenis event dan kegiatan selalu menampilkan kesenian daerah masing-masing yang memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri.

Ada ratusan sanggar seni sempat berkembang di Kota Susu. Mulai dari seni pagelaran, seperti ketoprak, tari jalanan, wayang dan lainnya. Kemudian ada juga yang memfokuskan pada tari-tarian tradisional khas, seperti topeng ireng, reog dan tari lain.

Seni kebudayaan Boyolali ternyata tak sekadar dimaknai sebagai tontonan, namun juga wujud katresnaan atau kecintaan pada budaya lokal.

"Kami setiap tahun selalu memprogramkan, misalnya festival budaya, dan parade. Seperti tahun ini sudah kami lakukan di Desa Ngenden, Ampel. Kami lakukan pola pelestarian budaya dan seni di Boyolali. Lalu ada beberapa bantuan dari DBHCHT (Dana bagi hasil cukai hasil tembakau, Red) itu juga kami wujudkan dalam kegiatan yang kami lakukan untuk melestarikan kebudayaan di Boyolali," jelasnya pada Jawa Pos Radar Solo.

Tak sekadar melestarikan dalam bentuk kegiatan, dinas juga mengupayakan regenerasi pada pelaku seninya. Ada program Duta Seni yang sudah berjalan sejak bupati Boyolali sebelumnya, Seno Samodro.

Duta Seni merupakan pola regenerasi pelestarian budaya di lingkup Boyolali dan Jawa Tengah. Generasi penerus, dikalangan remaja, dibebaskan untuk menggeluti kesenian yang disukai. Menurut Biyanto, seni tari tradisional paling banyak diminati.

"Yang banyak diminati tari jalanan dan tari budaya. Tapi memang hampir semua diminati, karena tarinya juga berkolaborasi dengan musik. Di musik pun juga berkolaborasi dengan semacam teater. Jadi tidak ada perbedaan mencolok dan signifikan dalam peminat kesenian, hampir semua merata," jelasnya.

Data dari Disdikbud Boyolali dari 2018-2023, terdapat 85 sanggar, kelompok, atau lembaga seni yang terdaftar di Kota Susu.

Sanggar terbagi dalam beberapa jenis pendalaman, mulai dari yang terfokus di seni tari, seni musik, hingga seni pementasan.

Beberapa kesenian daerah juga dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda dari Kemendikbud Ristek. Salah satunya, Tari Turonggo Seto khas Dusun Salam, Desa Samiran, Selo. Tarian keprajuritan yang menceritakan perjuangan dari pahlawan. Tarian tersebut mengacu pada perjuangan Pangeran Diponegoro tatkala berada di Selo pada masa perjuangan. Tarian ini juga menunjukan kegagahan prajurit pada masa itu. Kemudian dikolaborasikan dalam beberapa fragmen tarian.

Dinas juga tak menutup mata untuk perkembangan kesenian kreasi. Melalui Ketholeng Institute, lembaga di bawah naungan dinas juga mewadahi untuk pengembangan tari kreasi. Di dalamnya, tak hanya mengajarkan tari tradisional murni, namun sudah dikreasikan dengan tari modern dan kontemporer.

Salah satu tari kreasi yang berhasil ditampilkan seperti tari Garuda Nusantara. Selain pelaku seni, masyarakat luas juga memberikan dukungan dalam pelestarian budaya di Boyolali. Tak ayal, setiap ada pagelaran seni budaya, penontonnya membludak.

"Sebetulnya memang tidak hanya di lereng Merapi-Merbabu yang banyak penggemarnya. Tapi hampir semua di seluruh wilayah Boyolali apabila ada pementasan tari hampir semua masyarakat ingin melihat. Walaupun seluruh wilayah Boyolali bisa dibilang ya Lereng Merapi-Merbabu. Masyarakat masih mencintai budaya saja, makanya ramai terus," jelasnya.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Pertama sebagai hiburan atau tontonan. Kedua, masyarakat mencintai budaya yang ada di Boyolali.

Biyanto menyontohkan, saat dinas mengadakan pagelaran kethoprak di Juwangi ada ribuan penonton hadir. Lalu saat pagelaran tari rakyat di Ampel juga banjir penonton. Hal tersebut menunjukan bahwa tradisi budaya tak hanya sekadar tontonan saja, namun turut menyemarakkan minat masyarakat untuk melestarikan budayanya sangat besar.

"Pernah tahun lalu kami adakan di Wonosamodro, pentas wayang kulit itu penontonnya juga luar biasa. Sampai kami sepakat selesai jam 02.00. Saat selesai acaranya penontonnya masih ribut, lho kok wis bubar? (Lho kok sudah selesai?, Red). Inginya sampai pagi, jadi di seluruh lapisan masyarakat Boyolali mencintai budayanya," pungkasnya. (rgl/nik/dam) Editor : Damianus Bram
#Ketholeng Institute #Sanggar Seni di Boyolali #sanggar seni #disdikbud boyolali #Duta Seni #melestarikan budaya