Diketahui, video yang tersebar di akun Instagram magelang_raya memperlihatkan rombongan pendaki. Mereka turun dengan posisi berurutan lalu meluncur dengan cara perosotan. "Kondisi jalur pendakian Gunung Merbabu di Jawa Tengah saat musim kemarau," tulis akun tersebut.
Para pendaki tampak berteriak dan tertawa. Di akhir-akhir video, terdengar teriakan, "To ganjel To". Debu tebal spontan beterbangan. Hal tersebut membuat pendaki yang ada di barisan belakang berdiri dan menghindar dari debu.
Akun tersebut juga mengkritik tingkah sejumlah pendaki tersebut. "Kondisi Jalur Merbabu Saat Musim Kemarau. Tidak Untuk Ditiru!!! Beginilah kondisi jalur pendakian di Gunung Merbabu saat musim kemarau. Jangan meniru kelakukan dalam video tersebut. Perosotan di jalur sangat merugikan diri sendiri maupun orang lain, mengganggu pendaki lain dengan dengan debu yang ditimbulkan, dan rawan cedera bagian tubuh karena terkilir/terkena benda-benda keras di sekitar jalur serta (amit-amit) terperosok ke jurang," tulisnya.
Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) Junita Parjanti mengatakan, kejadian dalam video tersebut terjadi di jalur pendakian Selo. Hanya saja, dia tidak menyebut kepastian waktunya. Kondisi jalur pendakian saat ini sudah cukup padat karena hujan yang cukup lebat di puncak Merbabu selama satu pekan kemarin.
"Kejadian ini di jalur pendakian Selo beberapa waktu yang lalu. Selama satu minggu kemarin sudah terjadi hujan cukup lebat di puncak Merbabu, membuat tanah menjadi padat,” katanya, Minggu (18/6).
Perilaku sejumlah pendaki yang turun dengan perosotan, tegas Junita, jelas tidak boleh dan tidak patut ditiru. Hal tersebut bisa merusak jalur pendakian. (rgl/wa) Editor : Tri Wahyu Cahyono