Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Boyolali Joko Suhartono menjelaskan, harga jagung di tingkat peternak dan jagung pipilan kering untuk pakan ternak naik. Di tingkat peternak, tembus Rp 6 ribu per kilogram.
Sedangkan harga acuan pembelian (HAP) Rp 5 ribu per kilogram. Untuk jagung pipilan sekira Rp 5.200 per kg. Padahal HAP berkisar Rp 3.970 per kg.
Kemudian, bahan pendukung lain juga masih impor dari luar negeri, yaitu bahan soybean meal, berupa ekstraksi minyak kedelai yang menjadi sumber protein pakan ternak.
Selain itu, pihaknya juga menindaklanjuti dengan mengecek peternak. Harga ayam hidup di tingkat produsen Rp 23 ribu-Rp 25 ribu per kilogram. Saat sampai dikonsumen, harga ayam hidup menyentuh Rp 27 ribu - Rp 29 ribu per kilogram.
"Sedangkan ayam potong di tingkat konsumen Rp 37 ribu sampai Rp 38 ribu per kilogram. Ada ekspor tapi relatif masih kecil. Karena sekarang kan pasar bebas. Belum berpengaruh secara nasional," jelasnya, Senin (19/6/2023).
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disdagperin) Boyolali Darmadi menuturkan, pihaknya telah melakukan pengecekan harga di sejumlah pasar. Kenaikan harga ayam potong, katanya, karena banyak warga hajatan dan PT Java di Riau itu ekspor ayam 41 ton. “Mungkin imbas itu, termasuk Boyolali kena imbasnya. Ekspornya di Riau sana," terangnya.
Ditambahkannya, Kementerian Perdagangan (Disdag) memang perdana mengekspor ayam ke Singapura Mei lalu ke Singapura. Pasokan ayam untuk diekspor terjadi di Riau. Sedangkan pasokan di Boyolali mengandalkan peternak lokal.
"Ketersediaan aman, cukup sekali. Tidak ada kekurangan pasokan, Insya Allah tidak. Jadi tidak memengaruhi harga. Begitu pasokan kurang, kami langsung koordinasikan dengan tim pengendali inflasi daerah (TPID) Boyolali,” ucapnya. (rgl/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono