Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Sentra Tembakau Boyolali Diperluas, Garap Lahan Menjanjikan di Wonosamodro

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 21 Juni 2023 | 02:29 WIB
Tanaman tembakau milik petani Jelok, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
Tanaman tembakau milik petani Jelok, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
RADARBOYOLALI.COM-Pemkab Boyolali memperluas lahan pertanian untuk menanam tembakau ke lima desa yang sebelumnya tidak pernah ditanami komoditas terkait. Luas yang akan ditanami tembakau mencapai 3.899 hektare.

Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali Bambang Jiyanto mengatakan, selama ini, sentral pertanian tembakau berada di wilayah barat, yakni lereng Merapi-Merbabu, serta wilayah selatan di Selo, Cepogo, Musuk, Tamansari, Gladagsari, Ampel dan Mojosongo.

"Kami memasyarakatkan menanam tembakau di beberapa kecamatan yang belum pernah ditanami tembakau. Ini sudah mulai menanam," ujarnya, Selasa (20/6).

Wilayah itu yakni Desa Gilirejo dan Repaking di Kecamatan Wonosamodro. Kemudian Desa Kauman, Kecamatan Wonosegoro; Desa Krasak Kecamatan Teras, dan Desa Brajan, Kecamatan Mojosongo.

Mendukung program tersebut, dispertan memberikan bantuan enam unit pompa air kepada empat kelompok tani (Poktan).

Sementara itu, hingga akhir Mei 2023, luas lahan tanaman tembakau mencapai 3.408 hektare yang dikelola 12.587 petani tembakau.

"Untuk menggenjot produksi, kami sudah menyalurkan pupuk NPK rendah chlor kepada 55 kelompok tani tembakau pada Mei lalu.  Jumlahnya 110 ton yang merupakan bantuan Pemkab Boyolali dengan sumber anggaran dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) 2023 senilai Rp 1,5 miliar," papar Bambang.

Diakuinya, harga pupuk NPK rendah chlor cukup mahal. pengaplikasiannya juga harus tepat waktu. Sebab itu, penyedia barang diinstruksikan langsung kirim ke lokasi poktan.

Sukini, petani tembakau asal Desa Jelok, Kecamatan Cepogo menanam tembakau jenis Rajang sejak Maret lalu. Biaya tanam tembakau memang cukup mahal. Sedangkan tanaman tembakau baru bisa dipanen saat berusia lima bulan.

"Saya tanam 2.000 batang tembakau. Benihnya habis Rp 340 ribu. Belum termasuk pemupukan yang berkali-kali. Pupuk rabuk habis 30-35 karung. Harganya Rp 27 ribu per kilogram. Lalu pupuk urea saya dua kali ngasihnya. Pas awal-awal habis 175 kilogram, lalu yang kedua ini habis lebih satu kuintal. Harga pupuknya Rp 9 ribu per kilogram. Ini belum tambah pupuk kandang, bisa habis minimal lima rit," ungkapnya.

Sukini berharap panen tahun ini cukup bagus dan menguntungkan. (rgl/wa) Editor : Tri Wahyu Cahyono
#perluas lahan tembakau #sentra tembakau boyolali #tembakau boyolali #komoditas tembakau