Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Sebagian Jemaah Haji Embarkasi Solo Telantar di Mina, Saling Berbagi Tempat Berteduh

Tri wahyu Cahyono • Sabtu, 1 Juli 2023 | 01:31 WIB
Jemaah haji asal Boyolali berteduh saat menunggu bus untuk kembali ke Makkah dalam nafar awal. (DOK. JEMAAH HAJI)
Jemaah haji asal Boyolali berteduh saat menunggu bus untuk kembali ke Makkah dalam nafar awal. (DOK. JEMAAH HAJI)
RADARBOYOLALI.COM- Telantarnya jemaah haji asal Indonesia di Mina menjadi sorotan Pemerintah Indonesia. Sebagian dari mereka berasal dari Embarkasi Solo. Bahkan tak sedikit jemaah haji lanjut usia (lansia) tidak mendapatkan pemondokan dan tidur di luar tenda jemaah lain.

Dalam kondisi tersebut, jemaah haji saling membantu. Membagikan oralit dan berbagi tempat berteduh.

Masalah pemondokan ini dialami kelompok terbang (Kloter) 93-95 SOC. Para jemaah menjalankan ibadah di Arafah-Muzdalifah-Mina (Armina). Dari video dan foto yang beredar luas, mereka merupakan jemaah dari Maktab 71.

Video itu diambil di tenda jemaah kloter 95 Solo dan kloter 93 Blora. Terlihat, sebagian jemaah lansia tidur di luar tenda. Tampak koper-koper jemaah yang tidak dimasukkan ke tenda. Mereka tidur dan makan di kasur yang diletakan di depan tenda.

Joko Murdowo, salah seorang jemaah haji asal Boyolali yang tergabung dalam Kloter 65 SOC, termasuk beruntung. Karena kloternya mendapatkan pemondokan layak. Hanya saja, dia dibuat miris, karena jemaah haji asal Cilacap tidak kebagian pemondokan. Para jamaah yang telantar bertahan di luar tenda Kloter 65 SOC selama di Mina.

"Ada puluhan bahkan seratusan jemaah Cilacap tidur di luar tenda. Sudah dua malam nggak dapat tenda. Kemarin siang panas menyengat, sejumlah lansia kami minta masuk ke tenda agar bisa ngadem. Kami semprot air ke muka dan kepala, kami beri air mineral,” ujarnya saat dihubungi via aplikasi perpesanan WhatsApp.

Menurut Joko, jemaah yang telantar awalnya terlambat dibawa ke Mina, pascaibadah di Muzdalifah. Padahal kondisi cuaca di Muzdalifah sangat panas dengan persediaan air minum terbatas. Mereka baru dibawa ke Mina selepas duhur.

Setibanya di Mina, para jemaah tak kebagian pemondokan, sehingga mereka tidur di luar tenda. Hal tersebut tentu memantik iba dari jemaah lain. Apalagi, mayoritas jemaah haji yang telantar merupakan lansia.

"Kami kasih air mineral. Mereka kan lansia, tidak tahu tempat mengambil air mineral. Semua  juga sudah diberi oralit dari embarkasi untuk mengganti cairan tubuh. Tapi balik lagi, lansia, yen nggak bola bali dikandani ya nggak ngerti (kalau tidak dikasih tahu berulang kali tidak tahu)," jelasnya.

Joko juga menyayangkan fasilitas di Armina. Karena hanya tersedia 10 kamar mandi untuk satu maktab yang berisi delapan kloter. Padahal satu kloter normalnya berisi 360 jemaah haji.

"Akhirnya sejumlah kloter memutuskan navar awal. Kloter 65 dapat giliran pindah dari Mina ke Makkah di urutan keenam dari 10 kloter hari ini. Kami sudah berangkat setelah duhur. Kloter Cilacap masih panas-panasan menunggu bus. Mudah-mudahan pengorbanan ini mendapat balasan haji mabrur dari Allah untuk semua haji Indonesia," urainya.

Humas PPIH Embarkasi Solo Gentur Rachma Indriadi mengatakan, kondisi pemondokan jemaah di Mina sudah kondusif. Pihak Kemenag telah melayangkan protes keras ke Mashariq atas kondisi tersebut.

"Saat ini jemaah sedang lempar jumrah, baik yang mengambil nafar awal maupun nafar tsani. Kecuali, bagi jemaah di wilayah Syisyah, mereka langsung kembali ke hotel di Makkah. Jadi wilayah Syisyah ini lebih dekat ke Jamarat, tempat lempar jumrah. Sehingga rata-rata jemaah haji mending pulang ke hotel daripada ke tenda di Mina," bebernya. (rgl/wa)

  Editor : Tri Wahyu Cahyono
#haji embarkasi solo telantar #haji indonesia telantar di minta #haji telantar #haji cilacap telantar