Bakat Setiawan, petani sekaligus pengepul tembakau di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali mengatakan, ada sekira 60 ribu petani tembakau yang tersebar di Selo, Gladagsari, sebagian Cepogo dan sekitarnya. Tiap tahunnya, petani bisa menghasilkan 40 ribu ton tembakau kering.
Hanya saja, banyak permasalahan yang ditemui petani. Mulai dari modal tanam, perawatan hingga produksi tembakau yang mahal. Hingga tidak ada jaminan pasar untuk menjual panenan. Hal tersebut ditemui petani pada 2022 silam. Saat itu, harga tembakau anjlok di angka Rp 37 ribu per kilogram (kg). Padahal petani bisa menyicipi untung ketika harga tembakau Rp 70 ribu per kg.
"Petani sebenarnya nggak punya jaminan pasar dan kepastian. Dulu memang ada kemitraannya, harga rundingan, sekarang harga hanya ditentukan sepihak oleh perusahaan. Petani hanya bisa pasrah. Tidak punya nilai tawar, padahal tembakau Boyolali kualitasnya terbaik dan sudah memiliki hak paten Internasional, tembakau fire cured (DFC)," terangnya belum lama ini.
Awalnya, program kemitraan memberikan dampak positif bagi petani. Perusahaan mitra akan meminjamkan modal tanam dengan per paketnya sebanyak 5.000 batang tembakau. Petani akan menerima kredit dari perusahaan Rp 4,7 juta. Dari modal 5.000 batang, petani bisa menghasilkan 5 ton daun tembakau basah atau 750 kg tembakau kering.
"Katakanlah tembakau kering laku Rp 40 ribu per kilogram, maka petani dapat Rp 30 juta. Itu dikurangi modal kredit tadi. Belum lagi, biaya tanam Rp 1.500 per pohon, total ya habis Rp 7,5 juta untuk biaya tanam. Belum lagi biaya perawatan, pupuk dan lainnya. Pascapanen, petani juga masih dihadapkan biaya produksi. Mulai dari panen sampai kirim. Kalau dihitung-hitung, tentu ya mepet dan tidak nyucuk (biaya produksi dibandingkan laba,red)," keluhnya.
Selain itu, petani juga mengeluhkan panjanganya rantai perdagangan. Petani tidak bisa langsung menjual ke pengepul perusahaan. Boyolali juga tidak memiliki pabrik penampungan langsung dari perusahaan. Alhasil, tembakau dikirimkan ke gudang di Temanggung maupun Magelang.
Rantai penjualannya, dari petani akan dibeli oleh penutul atau pedagang keliling yang mengambil langsung ke petani. Setelah itu, baru dijual ke pengepul, lalu ke broker dan baru masuk pabrik.
"Otomatis nilai jual tembakaunya juga turun. Petani hanya butuh jaminan pasar dengan harga yang sesuai dengan biaya produksi. Petani berharap pemerintah memberikan jaminan pasar dan kalau bisa langsung menjual ke perusahaan, maka harga beli ke petani naik. Petani meminta didatangkan gudang pembelian resmi di Boyolali, selama ini ikut ke Temanggung dan Magelang," urai Bakat.
Sementara itu, Sekretaris Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Boyolali Wiyarto mengatakan, produksi tembakau secara umum diprediksi menururn. Lantaran curah hujan yang kurang, sehingga tanaman tembakau tidak bisa tumbuh tinggi dan subur. Hanya tembakau yang ditanam sebelum Ramadan lalu yang tumbuhnya cukup bagus.
"Sebagai contoh tembakau tanaman saya yang tanam pada puasa kurang tiga hari. Masih dapat asumsi airnya cukup (dari hujan,red). Kalau harga jualnya, kemungkinan akan sedikit meningkat karena kuota tahun kemarin-pun juga nggak terpenuhi, sehingga pabrikan akan bersaing untuk mendapatkan tembakau dari petani," katanya.
Musim panen tahun lalu, harga tembakau Rp 65 ribu per kg. Itupun jika dijual lewat kemitraan. Sedangkan penjualan lokal tertinggi hanya Rp 55 ribu per kg. Harga tersebut dinilai belum terlalu bagus, sehingga belum memberikan keuntungan bagi petani karena modal tanam dan produksi sudah tinggi. (rgl/wa) Editor : Tri Wahyu Cahyono