RADARBOYOLALI.COM – Ratusan warga Desa Jatisari, Sambi menggelar aksi demo di lokasi galian C desa setempat. Sudah setahun terakhir, puluhan hektare tanah dikeruk. Warga menuntut penutupan lokasi tambang dan meminta reklamasi lahan.
Aksi massa ini berlangsung mulai pukul 08.00. Ratusan warga berkumpul di Balai Desa Jatisari. Tua, muda, laki-laki maupun perempuan hingga anak-anak. Mereka berjalan kaki melewati jalan usaha tani sejauh 1 kilometer. Mengular melewati pemantang sawah. Hamparan lahan kerukan dengan 10 lebih backhoe menyebar. Aktivitas penambangan pagi itu berjalanan seperti biasa. Warga yang membawa spanduk protes langsung menghampiri operasional backhoe.
"Mudun kowe! Mudun kowe (turun kamu!)," teriak warga meminta sopir backhoe turun menghentikan aktivitasnya.
Sambil membentangkan spanduk protes, warga lantas memblokir sepanjang jalan menuju pintu masuk ritase dump. Potongan-potongan pohon ditaruh melintang. Batu-batu besar di tengah jalan. Warga menuju batas desa yang dipisahkan dengan aliaran sungai. Tampak dua jembatan buatan dari pengusaha galian C. Puluhan warga langsung membongkar lapisan besi pada jembatan utama. Lalu membuat api unggun di tengah-tengah jalan. Memblokade akses masuk.
Seluruh kendaraan berat dan tiga dump truk terjebak di dalam. Warga terus menuntut, meminta backhoe dioperasikan untuk membongkar jembatan buatan itu. Tak berselang lama, jembatan akses ritase dump sudah tak berbentuk. Hal tersebut disambut sorakan warga. Sesekali mereka menantang sang pemilik usaha galian C untuk menemui warga.
Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Jatisari, Sambi, Sholeh mengatakan, warga memang tidak senang dengan adanya tambang galian C. Ada sebagian warga yang memang telah menjual tanahnya kepada pengusaha penambang. Namun, karena keterpaksaan. Sebab kondisi lahan di sekitarnya sudah dikeruk alat berat. Awalnya, lahan tersebut merupakan tegalan dengan tanaman jati. Ada juga yang masih digarap lahan pertanian.
Saat ini sudah merambah ke area persawahan produktif. Bahkan bisa dua kali panen. Warga mulai khawatir jika galian C terus meluas ke barat yang merupakan area persawahan. Padahal, sesuai peta target dari CV galiac C, luas lahan yang masuk area pengerukan seluas 35,5 hektare. Saat ini, sampai puluhan hektare.
"Setahu saya kan, galian ini dari awal memang tidak melalui izin dari desa. Warga dan pemdes minta bantuan Walhi Jateng untuk melacak perizinannya. Ternyata perizinan di Februari itu belum selesai,” ujar dia.
Sholeh mengakui SK kementerian sudah turun. Namun, ada hal-hal yang perlu dipenuhi di tingkat bawah. Misal analisa dampak lingkungan. Izin itu belum dilaporkan ke DLH provinsi.
“Kami konfirmasi ke provinsi, masih dalam mengkaji berkas dan berkasnya dikembalikan ke CV (untuk dilengkapi)," jelasnya saat ditemui sesuai aksi.
Padahal, pertambangan mulai beroperasi sejak awal 2022. Dia menuding, selama satu tahun beroperasi tersebut pengusaha tambang belum mengurus izin-izin terkait. Di sisi lain, dampak tambang tersebut memicu berbagai permasalahan. Awalnya ada 7 KK dan sebagian lainnya telah dijual ke penambangan. Tinggal satu rumah warga terancam ambrol karena berada di pinggiran tebing galian C dan tinggal berjarak beberapa meter saja.
"Dari masyarakat yang sudah menjual, itu hanya dijual tanahnya saja. Ada yang dijual Rp 15 ribu per meter. Dari informasi tambang ini dikeruk untuk suplai jalan tol Jogja-Solo," jelasnya.
Hasil dari Musyawarah Desa (Musydes) Jatisari ada 11 tuntutan warga. Warga bersama Dirut CV Indah Kontruksi Bambang Satriawan lantas menggelar mediasi di balai desa setempat. Proses mediasi berlangsung sejak pukul 10.30 hingga 12.20. Proses mediasi berlangsung alot. Warga menolak ajakan pembicaraan pribadi. Serta meminta kesepakatan penghentian tambang dalam surat perjanjian yang disaksikan seluruh warga. Di antaranya meminta tidak ada aktivitas ritase dump keluar lokasi penggalian. Serta meminta agar segera dilakukan reklamasi lahan warga yang terdampak dalam jangka waktu lima bulan.
"Hasilnya disetujui untuk ditutup. Kemudian tanah yang longsor dan terdampak agar cek lokasi dan mencari jalan keluarnya," ungkap Sholeh pasca kesepakatan yang disambut riuh tepuk tangan warga. (rgl/bun/dam)
Editor : Damianus Bram