RADARSOLO.COM-Musim panen tembakau tiba. Selain petani, perajin anyaman bambu untuk mengeringkan tembakau alias widik, turut ketiban berkah.
Sebut saja perajin anyaman bambu asal Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel yang menerima order 100 buah widik. Selain itu, para perajin juga membuat anyaman hias untuk dinding.
Martini, perajin anyaman bambu di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel mengamini, setiap panen tembakau, pesanan anyaman bambu cukup banyak. Dia pun berbagi tugas dengan sang suami.
Martini menganyam bambu di dalam rumah, sedangkan sang suami membuat gapit atau tepi anyaman di halaman depan.
"Pesanan widik banyak dari Gedangan, Cepogo, Selo, dan Ampel. Widik dipakai menjemur tembakau rajang," ujarnya Minggu (16/7/2023).
Sehari-hari, keluarga Martini beternak dua ekor sapi. Setelah mengurus pakannya, mereka mengisi waktu dengan membuat kerajinan anyaman bambu.
Saat musim panen tembakau, Martini menerima pesanan hingga 100 widik per bulan. Per lembarnya dibanderol Rp 30 ribu.
"Sehari bisa membuat 10 widik bersih. Kalau bahannya juga dari sini. Kalau nebang sendiri, harga perlonjornya Rp 10 ribu. Kalau minta diantar sampai rumah, ya Rp 15 ribu - Rp 20 ribu per batang bambu," jelasnya.
Satu batang bambu dengan panjang sekira 4 meter, lanjut Martini, bisa untuk membua lima widik.
Selain membuat widik, keluarga Martini juga membuat anyaman hiasan dinding atau dikenal tabag. Harganya bervariasi, tergantung kerumitan motif dan serta ukurannya.
Misalnya tabag biasa berukuran 2x3 meter dibanderol Rp 60 ribu. Untuk tabag motif, hitungannya per meter. Satu meternya Rp 60 ribu.
"Itu nanti kalau dijual lagi ya jadi Rp 100 ribu per meter. Biasanya saya kirim ke Salatiga, kalau ada pesanan, ya saya buatkan. Kalau membuat anyaman, kadang sampai jam 01.00. Buat selingan saja, lumayan hasilnya," terang Martini. (rgl/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono