Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Harga Ayam Petelur Siap Produksi Gila-gilaan, Telur di Boyolali Bakal Awet Mahal

Ragil Listiyo • Jumat, 28 Juli 2023 | 00:19 WIB

Peternak ayam petelur di Boyolali berharap harga telur tak di bawah Rp 27 ribu per kilogram karena biaya produksi mahal. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
Peternak ayam petelur di Boyolali berharap harga telur tak di bawah Rp 27 ribu per kilogram karena biaya produksi mahal. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
 


RADARBOYOLALI.COM- Peternak ayam petelur di Kabupaten Boyolali harus mengeluarkan modal puluhan juta untuk mengisi satu kandang.

Itu karena harga bibit ayam (day old chicken/DOC) maupun pullet (ayam siap produksi) terus naik. Dampaknya, harga telur bakal awet mahal.

Diketahui, harga DOC dibanderol Rp 13 ribu-Rp 14 ribu per ekor, sedangkan pullet Rp 56 ribu - Rp 89 ribu per ekor. Belum termasuk harga pakan yang ikut naik. 

Eko Yulianto, peternak asal Desa Jelok, Kecamatan Cepogo mengatakan, harga pakan ayam tembus Rp 7.600 per kilogram. Untuk 1.000 ekor ayam memerlukan pakan 125 kilogram (kg)-130 kg per hari. Padahal dia memiliki 9.000 ekor ayam. 

"Per hari butuh 1.170 kilogram dikali harga pakan. Sehari keluar biaya Rp 8,89 juta. Itu baru pakannya, belum obatnya, air, tenaga, listrik dan lainnya," terangnya, Kamis (27/7/2023). 

Ketika membeli DOC, Eko harus menambah dana untuk pembesaran. DOC juga perlu perlakuan khusus agar tidak stres. Termasuk penghangat agar ayam tidak mati kedinginan.

Begitu pula dengan pullet, harga per ekor umur 10 minggu mencapai Rp 56 ribu per ekor. Sedangkan umur 16 minggu Rp 89 ribu /ekor. 

"Tiap isi kandang, minimal 1.000 ekor ayam pullet umur 13 minggu. Jadi harus keluar uang Rp 72,8 juta. Umur 13 minggu itu masih lama bertelurnya," katanya.

"Habis itu masih nombok pakan dulu sampai bisa produksi. Karena ayam bertelurnya di usia 23 minggu. Jadi banyak faktor yang membuat harga telur fluktuatif. Karena memang pakan mahal, bibit mahal, dan permintaan masyarakat juga," imbuh Eko.

Untuk harga telur, jelang Suro lalu antara Rp 28 ribu - Rp 30 ribu per kg. Kemudian per Kamis turun menjadi Rp 27 ribu per kg.

"Kalau dijual ecer (warung dan pasar, red) mungkin Rp 29 ribu per kg. Ya, berkaca dari biaya produksi dan bibit ayam yang mahal, paling tidak harga telur Rp 27 ribu per kg. Itu baru bisa menutup biaya produksi," urainya. 

Taufan, peternak ayam petelur lainnya mengatakan, kondisi peternak didesak dengan harga pullet yang mahal. Ditambah harga pakan tinggi. Beberapa peternak tak berani mengisi kandang karena biaya operasional pullet mahal. 

"Yang penting harga telur masih di atas Rp 27 ribu per kg, peternak masih bisa gerak. Kalau di bawah itu, ya berat. Karena ini pullet naik hampir 100 persen. Kulakan ayamnya mahal banget. Harga pakan juga nggak turun-turun sampai sekarang," keluhnya. 


Ketua paguyuban peternak petelur Boyolali Bersatu drh. Krishandrika Immanuel Raharjo mengatakan, hampir semua komponen produksi ayam petelur naik.

"Kalau harga telur masih bertahan seperti sekarang, peternak mungkin masih bertahan. Karena semua komponen produksi naik. Jangan paksa kami untuk menurunkan harga telur. Monggo dibandingkan dengan makanan-makanan lain. Kerupuk misalnya, di warung Rp 1.000 - Rp 2.500, telur 1 butir taruhlah Rp 2 ribu, tapi kandungan gizinya jauh lebih tinggi," ungkap dia. (rgl/wa)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#petelur #ayam #Harga Telur #peternak