RADARBOYOLALI.COM-Bekas kantong plastik bak harta karun bagi Sholichin, warga Dusun Plumutan, Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono. Sampah-sampah plastik itu dirangkainya menjadi layang-layang bernilai ekonomi.
Ada yang polosan, bergambar tokoh pewayangan Gatotkaca, dan sebagainya. Proses pembuatan layang-layang cukup rumit. Potongan bambu diraut agar bisa fleksibel ketika dilengkungkan.
Kain perca dililitkan di jari telunjuk kanan agar tak tergores tajamnya pisau. Lem korea, solder dengan ujung bengkok, pisau dan peralatan lain menjadi sahabat sehari-hari Sholichin.
Sedangkan batang bambu petung dan gulungan benang teronggok di pojok ruangan. "Awalnya itu penasaran, kok ada layangan pegon, lihat di YouTube. Coba buat, dua jam bikinnya, ukuran 1,5 meter," terang Sholichin, Rabu (2/8/2023).
Meskipun baru kali pertama membuat layang-layang pegon, ternyata langsung bisa diterbangkan. Itu membuat Sholichin semakin semangat. "Mungkin kalau pas awal itu gagal, saya ya mutung (putus asa)," ujarnya.
Menariknya, layang-layang pegon dibuat dari bambu dan bekas kantong plastik. Dalam sehari, Sholichin bisa merangkai dua buah layang-layang diameter 1,2 meter.
Untuk yang jumbo, sekira 2,5 meter, butuh waktu satu hari. Agar lebih nyeni, layang-layang dipasangi peluit atau dikenal sendaren.
Harga layang-layang pegon buatan Sholichin bervariasi. Mulai dari Rp 120 ribu untuk ukuran 1,2 meter, dan Rp 200 ribu untuk diameter 2 meter.
Khusus untuk motif warna-warni bergambar tokoh pewayangan, Sholichin menggarapnyan selama lima hari dan dibanderol Rp 700 ribu.
"Sudah laku, dibeli orang Sragen. Tertarik pas lihat di karnaval. Bahannya bekas kantong plastik. Lalu digambar pola, baru ditempel satu per satu. Biar rekat saya solder," katanya.
Dia juga menerima pesanan model layang-layang lainnya. Di antaranya berbentuk hati dengan sayap di sisi kanan dan kiri.
Sholichin sudah menghasilkan puluhan buah layang-layang. Yang paling diminati model polos. Konsumennya dari eks Karesidenan Surakarta. Selain itu, juga dipasarkan di marketplace dengan brand Pasare Jagat.
"Sebulan bisa produksi minimal 30 buah layang-layang. Omzet bulan ini Rp 5 juta-an. Pas musim angin antara Juni, Juli, Agustus, saya manfaatkan bikin layang-layang," pungkasnya. (rgl/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono