RADARBOYOLALI.COM – Tujuh kendi berhias janur berisi air dari tujuh sumber siap diarak. Ritual pengambilan tujuh sumber mata air ini bebarengan dengan usia ke 100 Desa Selo. Sekaligus perayaan menyambut Hari Kemerdekaan ke-78 RI. Uniknya, ada seribu tumpeng dan arak-arakan bendera merah putih raksasa.
Kirab budaya Desa Selo meriah kemarin. Kirab dimulai dengan arakan tujuh kendi dari tujuh mata air. Kegiatan pawai dimulai di Dusun Senet menunu Lodjie Soko Giri. Dilanjutkan dengan kirab seribu tumpeng dari 24 RT. Tak selesai, tiap RT menampilkan atraksi budaya. Dilanjutkan dengan pawai-pawai pembentangan bendera raksasa. Atraksi merak dan reog Ponorogo juga menghebohkan. Di belakangnya ada ogoh-ogoh raksasa dari daun pisang kering dengan kepala Buto Kala setinggi tiga meter dijunjung beramai-ramai.
Sampai di Lodjie Soko Giri, seribu tumpeng ditata rapi. Sisi selatan, Gunung Merapi dan perbukitan Bibi tampak gagah. Sisi barar laut, Gunung Merbabu menjadi latar. Serangkan disisi timur, Gunung Lawu tampak seperti daratan diatas awan. Kirab budaya seribu tumpeng dan manunggal tujuh tirta menjadi salah satu perayaan 100 tahun Desa Selo.
"Ini untuk memeringati 100 tahun Desa Selo, dan menjaga warga Desa Selo, guyup rukun semakin terjaga. Ada kegiatan temu tujuh tirta, tujuannya untuk menyatukan. Karena di sini ada tujuh sumber mata air yang ada di wilayah dusun-dusun masing-masing untuk mempersatukan masyarakat, nyawiji satu," ungkap Kepala Desa Selo Andi Sutarno, di sela acara pada Rabu (9/8).
Kegiatan dimulai sejak Minggu (6/9) lomba kebun gizi, kader posyandu. Lalu festival seni dan perayaan 100 tahun Desa Selo pada Rabu. Dilanjutkan jalan sehat untuk umum pada Kamis pagi dan malamnya Selo Bersalawat.
“Ada 24 RT yang mengikuti kegiatan ini. Tiap RT membawa tumpeng dan gunungaan. Sedangkan jumla Kepala Keluarga (KK) mencapai 1.008 KK, dan tumpengnya sejumlah KK,” ujar dia. (rgl/adi)
Editor : Damianus Bram