RADARSOLO.COM – Tradisi buka luwur alias mengganti kain mori pada makam sesepuh Pantaran, Desa Candisari, Kecamatan Gladagsari, Boyolali kembali digelar Jumat (11/8). Makam tersebut merupakan tokoh penyebar agama Islam yang hidup sekira 1.400 Masehi.
Tradisi penggantian luwur sudah berjalan ratusan tahun. Ritual di makam yang terletak kaki Gunung Merbabu ini sebagai wujud melestarikan mata air Sipendok, sumber air asli dari Gunung Merbabu.
Tradisi buka luwur menjadi budaya masyarakat setempat. Tradisi ini bebarengan dengan sadranan, besik makam, ziarah, dan dilanjutkan open house. Ribuan masyarakat tumpah ruah.
Acara dimulai dengan doa pada Jumat pagi. Setelahnya, kirab dipimpin sejumlah prajurit. Seperangkat ritual luwur berupa dupa, kain mori, dan bunga mawar melati membuka arak-arakan. Di belakangnya, delapan gunungan hasil bumi setinggi 3 meter disunggi. Usai acara, gunungan langsung ludes diserbu warga.
Setelah ritual selesai, sang guru kunci dan Bupati Boyolali M Said Hidayat mulai mengganti luwur secara berurutan. Mulai dari makam utama Syekh Maulana Ibrahim Maghribi, lalu sang istri Dewi Nawangwulan. Kemudian keluar di ruangan kedua. Ada makam Ki Ageng Pantaran dan Ki Ageng Mataram. Di ruang berbeda sisi timur, terdapat makam petilasan Ki Ageng Kebo Kanigoro.
Mori lama yang sebagian mulai kusam diambil. Ditata rapi, baru diganti dengan mori baru yang putih bersih. Lalu ditutupkan pada cungkup nisan makam. Setelahnya baru ditaburi bunga.
Ada yang berbeda, ketika semua makam diberi bunga mawar bercampur melati. Tiap makam dipasangi ronce melati di tiap nisannya, baru ditaburi bunga. Tradisi ini tak hanya menjadi budaya turun temurun, namun juga nilai tradisi untuk ngalap berkah.
"Tradisi ini sudah berjalan dari dulu, sudah lama sekali, mungkin sudah ratusan tahun dilaksanakan. Hanya dulu masih sederhana, tidak meriah ini. Diadakan sadranan buka luwur satu tahun sekali. Setiap Suro setelah tanggal 20 pada hari Jumat. Harinya Jumat terus. Maknanya sebagai haul atau pergantian kain lurup penutup nisan," ujar Totok Sunyoto, 59, juru kunci makam Pantaran.
Dia menceritakan, pada 1400 atau abad 15 Masehi, lokasi makam merupakan padepokan milik Sang Wiku atau pertapa sakti. Padepokan menganut kepercayaan Hindu atau Budha dengan masih memegang adat kejawen. Lalu datanglah seorang syekh asal Maroko yang dikenal dengan Syekh Maulana Ibrahim Maghribi. Kedatangannya menyebarkan agama Islam disambut baik oleh Sang Wiku, yang kini dikenal sebagai Ki Ageng Pantaran.
Dengan legawa, padepokan tersebut menjadi tempat penyebaran agama Islam. Sang Wiku dan murid-muridnya lantas masuk agama Islam. Dua batu besar yang ditutupi kain mori di dalam areal makam merupakan alas saat Syekh Maulana dan Sang Wiku mengajar agama. Lambat laun masyarakat yang datang untuk belajar agama dan spiritual semakin banyak.
"Jadi karena di sini (Pantaran) Islam sudah berkembang, ngremboko (subur, Red), tapi tidak punya masjid. Jadi Syekh Maulana Ibrahim mendirikan masjid dengan kayu seadanya. Disengkuyung masyarakat padepokan. Kemudian berdirilah masjid Maulana atau Pantaran. Disebut Pantaran karena masjid tadi berdirinya bersamaan dengan Masjid Agung Demak. Kalau orang Jawa nyebutnya pantaran, karena bersamaan," tuturnya.
Di lain sisi, tokoh masyarakat setempat, Ayub Sarjono menambahkan, delapan gunungan hasil bumi yang ikut kirab merupakan simbol Gunung Merbabu.
Bupati Boyolali M Said Hidayat mendorong pelestarian tradisi yang ada di masyarakat, termasuk buka luwur di Makam Pantaran.
"Seperti ini (tradisi buka luwur, Red), upaya mendukung dari sisi wisata religi. Grojogan Sipendok ini juga yang menemukan Syekh Maulana Ibrahim Maghribi saat penyebaran agama di sini," pungkasnya. (rgl/nik/ria)
Editor : Syahaamah Fikria