RADARBOYOLALI.COM – Boyolali Susu memiliki lumbung padi yang tersebar dibeberapa kecamatan. Baik sawah dengan saluran irigasi teknis maupun tadah hujan. Saat musim kemarau, sawah tadah hujan menjadi perhatian. Ada lahan seluas 11.125 hektare terancam kering. Di sisi lain, dinas pertanian (dispertan) memastikan Boyolali masih surplus gabah kering giling.
Kepala Dispertan Boyolali Joko Suhartono menjelaskan, lahan pertanian sawah di Kota Susu ada yang mengandalkan saluran irigasi teknis. Ada juga yang tadah hujan. Berdasarkan data statistik pertanian (SP) pada 2022, luas lahan sawah tadah hujan seluas 11.125 hektare. Ada yang bisa satu kali hingga tiga kali tanam padi.
Sawah tersebut mengandalkan pasokan air hujan untuk tanam. Sehingga saat musim kemarau, sawah tanah hujan terancam puso. Meski demikian, Joko menjelaskan per 15 Agustus belum ada laporan kekeringan lahan. Sebab, panen padi banyak terjadi pada Mei dan Juni.
"Pertanaman padi untuk Juni-Juli dilakukan pada daerah beririgasi. Dispertan merekomendasikan jika menanam padi menggunakan varietas umur pendek, tahan kekeringan dan tahan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Bila air tidak cukup, diharapkan menanam palawija. Selain itu, sampai saat ini belum ada laporan puso dari petugas OPT penyuluh yang ada di lapangan," jelasnya.
Ditanya soal suplai beras, Joko mengatakan masih aman. Per Juli, luasan lahan yang menanam padi di sawah irigasi seluas 2.191 hektare. Sedangkan luas lahan panen mencapai 3.670 hektare. Kemudian, produksi gabah kering giling pada Juli mencapai 21.047 ton dan produksi beras bersih 12.079 ton.
"Kalau dihitung, jumlah penduduk kita ada 1.079.952 orang dengan kebutuhan konsumsi beras itu mencapai 10.042 ton. Itu sesuai hitungan rata-rata konsumsi per kapita nasional, yakni satu orang per tahunnya mencapai 111,58 kilogram. Di Boyolali, dengan produksi beras bersih 12.079 ton itu, kami masih surplus 2.037 ton per Juli. Jadi masih aman," terangnya.
Dia menambahkan, Boyolali pernah mengalami defisit pasokan beras pada Januari dan April. Pada Januari, pasokan beras defisit 3.315 ton dan pada April defisit 4.647 ton. Bulan-bulan lainnya tetap mengalami surplus. Sehingga meminimalisir gejolak harga. Sedangkan surplus tertinggi pada Februari mencapai 25.938 ton dan Juni lalu dengan surplus 28.169 ton.
Sedangkan angka produksi hingga pertengahan tahun ini dinilai cukup baik. Kurun Januari-Juli, produksi gabah kering giling mencapai 239.098 ton dan produksi beras 137.213 ton. Terhitung, Boyolali masih mengalami surplus sampai 66.921 ton.
"Pasokan beras masih aman. Bulan ini kami masih surplus dua ribu ton. Lahan pertanian yang menanam padi juga dua ribuan hektar," ujar dia.
Sementara itu, air di Waduk Cengklik, Ngemplak, juga mulai menyusut hingga sebagian mengering. Kondisi ini dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam dan dan aktivitas lainnya. (rgl/bun)
Luas Lahan Pertanian di Boyolali
2022
- 11.125 hektare
Total luas sawah tadah hujan
- 124,4 hektare
Sekali tanam padi
- 10,3 hektare
Dua kali tanam padi
- 170 hektare
Tiga kali tanam padi
- 490,6 hektare
Ditanami komoditas lain
2023
- 2.191 hektare
Sawah irigasi yang ditanami padi
- 3.670 hekatare
Luas lahan panen padi
- 21.047 ton
Produksi gabah kering giling
- 12.079
Produksi beras bersih
*) Per Juli 2023
Sumber: Dinas Pertanian Boyolali
Editor : Damianus Bram