Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Waduk Surut, 11 Ribu Hektare Sawah di Boyolali Terancam Puso

Ragil Listiyo • Rabu, 23 Agustus 2023 | 17:16 WIB
DAMPAK KEMARAU:  Kondisi air Waduk Cengklik di Ngemplak, Boyolali,  sudah surut hingga menyisakan area kering kemarin (22/8).
DAMPAK KEMARAU: Kondisi air Waduk Cengklik di Ngemplak, Boyolali, sudah surut hingga menyisakan area kering kemarin (22/8).

RADARBOYOLALI.COM – Boyolali Susu memiliki lumbung padi yang tersebar dibeberapa kecamatan. Baik sawah dengan saluran irigasi teknis maupun tadah hujan. Saat musim kemarau, sawah tadah hujan menjadi perhatian. Ada lahan seluas 11.125 hektare terancam kering. Di sisi lain, dinas pertanian (dispertan) memastikan Boyolali masih surplus gabah kering giling.

Kepala Dispertan Boyolali Joko Suhartono menjelaskan, lahan pertanian sawah di Kota Susu ada yang mengandalkan saluran irigasi teknis. Ada juga yang tadah hujan. Berdasarkan data statistik pertanian (SP) pada 2022, luas lahan sawah tadah hujan seluas 11.125 hektare. Ada yang bisa satu kali hingga tiga kali tanam padi. 

Sawah tersebut mengandalkan pasokan air hujan untuk tanam. Sehingga saat musim kemarau, sawah tanah hujan terancam puso. Meski demikian, Joko menjelaskan per 15 Agustus belum ada laporan kekeringan lahan. Sebab, panen padi banyak terjadi pada Mei dan Juni. 

"Pertanaman padi untuk Juni-Juli dilakukan pada daerah beririgasi. Dispertan merekomendasikan jika menanam padi menggunakan varietas umur pendek, tahan kekeringan dan tahan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Bila air tidak cukup, diharapkan menanam palawija. Selain itu, sampai saat ini belum ada laporan puso dari petugas OPT penyuluh yang ada di lapangan," jelasnya. 

Ditanya soal suplai beras, Joko mengatakan masih aman. Per Juli, luasan lahan yang menanam padi di sawah irigasi seluas 2.191 hektare. Sedangkan luas lahan panen mencapai 3.670 hektare. Kemudian, produksi gabah kering giling pada Juli mencapai 21.047 ton dan produksi beras bersih 12.079 ton. 

"Kalau dihitung, jumlah penduduk kita ada 1.079.952 orang dengan kebutuhan konsumsi beras itu mencapai 10.042 ton. Itu sesuai hitungan rata-rata konsumsi per kapita nasional, yakni satu orang per tahunnya mencapai 111,58 kilogram. Di Boyolali, dengan produksi beras bersih 12.079 ton itu, kami masih surplus 2.037 ton per Juli. Jadi masih aman," terangnya. 

Dia menambahkan, Boyolali pernah mengalami defisit pasokan beras pada Januari dan April. Pada Januari, pasokan beras defisit 3.315 ton dan pada April defisit 4.647 ton. Bulan-bulan lainnya tetap mengalami surplus. Sehingga meminimalisir gejolak harga. Sedangkan surplus tertinggi pada Februari mencapai 25.938 ton dan Juni lalu dengan surplus 28.169 ton. 

Sedangkan angka produksi hingga pertengahan tahun ini dinilai cukup baik. Kurun Januari-Juli, produksi gabah kering giling mencapai 239.098 ton dan produksi beras 137.213 ton. Terhitung, Boyolali masih mengalami surplus sampai 66.921 ton. 

"Pasokan beras masih aman. Bulan ini kami masih surplus dua ribu ton. Lahan pertanian yang menanam padi juga dua ribuan hektar," ujar dia.

Sementara itu, air di Waduk Cengklik, Ngemplak, juga mulai menyusut hingga sebagian mengering. Kondisi ini dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam dan dan aktivitas lainnya. (rgl/bun)

Luas Lahan Pertanian di Boyolali

2022

Total luas sawah tadah hujan

Sekali tanam padi

Dua kali tanam padi

Tiga kali tanam padi

Ditanami komoditas lain

2023

Sawah irigasi yang ditanami padi

Luas lahan panen padi

Produksi gabah kering giling

Produksi beras bersih

*) Per Juli 2023

Sumber: Dinas Pertanian Boyolali

 

Editor : Damianus Bram
#Waduk Cengklik #sawah #kekeringan #musim kemarau #lumbung padi