RADARBOYOLALI.COM – Kenaikan harga beras yang terjadi beberapa pekan terakhir, membuat petani tersenyum lebar. Karena harga gabah basah naik signifikan. Bahkan keuntungan petani mencapai Rp 12 juta per lahan seluas 2.500 meter persegi.
Salah satu sentra padi di Boyolali, tersebar di Kecamatan Banyudono. Yakni Desa Jembungan, Jipangan, Kuwiran, dan Sambon. Tanah di sana relatif subur, karena dipasok air dari Umbul Pengging. Sehingga bisa menanam sepanjang tahun.
Kini, petani mulai memasuki masa panen. Hasilnya cukup baik, karena naik dua kali lipat dari sebelumnya.
Hal tersebut dibenarkan oleh petani asal Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, Gunawan. Dia mengamini harga tebasan padi di sawah naik. Selama ini, petani memang kerap menjual padi dengan sistem tebasan. Pembeli, yang merupakan penebas akan menentukan harga sesuai luasan lahan. Begitu cocok dan sepakat, penebas baru bisa memanen saat membayar lunas harga tebasnya.
“Harga padi tebasan Rp 10 juta-Rp 12 juta per patok. Satu patok milik saya luasnya 2.500 meter persegi. Panen sebelumnya hanya dapat untung separonya, Rp 6 juta- Rp 7 juta saja,” ujar Gunawan, kemarin (10/9).
Gunawan memprediksi harga tersebut akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan. Apalagi areal persawahan tadah hujan belum bisa ditanami. Dampak dari kemarau panjang.
“Biaya tanam, sewa lahan, dan pupuk sekarang mahal. Bahkan pupuk subsidi hanya dapat jatah maksimal 50 kilogram (k)g. Padahal kebutuhan pupuk 100-150 kg untuk sekali tanam. Sisanya harus beli pupuk nonsubsidi,” imbuhnya. (rgl/fer)
Editor : Damianus Bram