RADARBOYOLALI.COM - Kampung lele di Dusun Mangkubumen, Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit menjadi ikon Boyolali. Konsep budiaya perikanan komoditas lele mampu dimanfaatkan dari hulu ke hilir. Tak hanya lele segar, usaha mikro kecil menengah (UMKM) tumbuh. Bahkan merambah pasar Negeri Sakura dan Tirai Bambu.
Kesibukan di Kampung Lele sudah terlihat sejak pagi. Bapak-bapak sibuk memanen dan memberi pakan ternak lelenya. Sedangkan ibu-ibu, yang tergabung dalam kelompok pengolahan pemasaran (poklahsar) sibuk memproses pembuatan keripik dan abon lele. Salah satunya di rumah produksi abon dan keripik Poklahsar Wien yang mendapatkan bantuan promosi dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
”Akhir 2017 itu, bapak (suami, Red) tidak bisa menjual lele yang ukurannya agak besar. Dijual ke pemancingan, tapi sepi. Akhirnya dari pada nggak terjual saya coba buat olahan lele,” ungkap Ketua Poklahsar Wien, Widarsih, 54, kemarin (9/10).
Proses uji coba meracik dan formula yang tepat tidak mudah. Awalnya, keripik lele terasa bantat dan keras. Warnanya pun tak menggugah selera, cenderung cokelat gelap. Selama satu tahun mengutak-atik resep dan terus mencoba, Windarsih membuahkan hasil. Awal merintis pemasaran keripik dan abon lele hanya lingkup pasar lokal. Produksi ikan lele paling hanya 15 kilogram per hari.
Dari dapur rumah itu, dia menghasilkan tiga jenis keripik. Yakni, keripik sirip, kulit dan daging yang tahan sampai tiga sampai empat bulan. Lalu dia juga membuat abon lele yang tahan hingga tujuh bulan. Sedangkan olahan lele segar berupa nugget, bakso hingga pepes lele. Winarsih lantas mengajak ibu-ibu sekitar rumah untuk membantu proses produksi.
Kemudian, pandemi melanda. Dia berputar otak agar usahanya tetap jalan. Anaknya membuatkan akun media sosial (medsos) untuk memperluas jangkauan pasar. Kebetulan saat itu, Pemprov Jateng memiliki program Lapak Ganjar. Poklahsar ikan lele Wien berhasil di-repost sang gubernur Jateng saat itu, Ganjar Pranowo. Lalu, pada Oktober tahun lalu dia mendapat bantuan promosi digital gratis dari pemprov.
”Alhamdulillah, sekarang kami produksi keripik bisa 45 kilogram (lele,Red) per hari, tapi kalau pas ramai bisa 80 kilogram. Kalau abon bisa 1 kuintal lele per hari, pas ramai ya 1,2 kuintal. Setelah ada bantuan promosi itu, orderan makin banyak, naik 60-70 persen. Dari 25 kilogram produksi jadi 45 kilogram,” terang dia.
Bahkan, pemasarannya semakin meluas. Awalnya hanya menjangkau lokal, kini bisa seluruh Indonesia seperti Sumatera, Kalimantan, Ambon dan lainnya. Orderan juga meluas ke tiga negara lain, Singapura, Tiongkok, dan Jepang. (rgl/adi)
Editor : Damianus Bram