Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Polemik Limbah Kotoran Sapi di Desa Sruni Boyolali Tuntas dengan Biogas, Tak Perlu Beli Elpiji Lagi

Ragil Listiyo • Sabtu, 14 Oktober 2023 | 20:00 WIB
Ibu rumah tangga di Dusun/Desa Sruni memanfaatkan biogas untuk memasak.
Ibu rumah tangga di Dusun/Desa Sruni memanfaatkan biogas untuk memasak.

RADARSOLO.COM - Limbah kotoran sapi menjadi masalah pelik di Dusun/Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali. Tapi kini kondisinya berubah, menjadi berkah.

Kali pertama, program bantuan biogas untuk mengolah kotoran sapi menjadi energi digelontorkan pada 1992. Tapi minat masyarakat minim.

Baru 20 tahun kemudian, biogas hasil swadaya masyarakat diwujudkan. Hingga kini tercatat sebanyak 186 degester biogas dan tiap rumah memilikinya.

Setiyo, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Agni Mandiri Dusun/Desa Sruni menjelaskan, pascaerupsi Gunung Merapi pada 2006, usaha peternakan berkembang pesat. Tiap rumah memiliki sedikitnya empat ekor sapi. Dari situ muncul tantangan menumpuknya kotoran sapi.

“Kotoran yang padat bisa digunakan untuk pupuk. Tapi yang cair, tidak bisa meresap dan meluber ke tetangga, selokan, depan rumah. Itu menjadi dampak sosial luar biasa. Sering padu (bertengkar antartetangga),” beber Setiyo, Jumat (13/10).

Setiyo lantas mengajak 12 temannya membuat pupuk organik dengan sistem fermentasi. Tapi sayang, limbah cair kotoran sapi belum bisa tertangani dengan baik. Kemudian muncullah ide biogas. Warga bersemangat mengajukan proposal bantuan ke dinas terkait.

Anggota Poktan Agni Mandiri rajin mengikuti pelatihan pembuatan biogas. Stigma pembuatan biogas yang mahal ditepis. Mereka berhasil membuat biogas yang murah dan permanen senilai Rp 3 juta.

Caranya, baik teknisi maupun desain biogas dibuat secara mandiri oleh anggota poktan.

“Saya yang pertama memulai membangun biogas. Pembuatan satu degester butuh waktu dua bulan,” jelas Setiyo.

Semangat membuat biogas itu akhirnya terwujud pada 2013. Gayung bersambut, ada lembaga swadaya masyarakat (LSM) memberikan bantuan pascaerupsi Gunung Merapi.

Setiyo kemudian mengajukan bantuan pembuatan biogas harga murah dan keberlangsungannya terjamin.

LSM itu sepakat memberikan bantuan simpan pinjam. Anggota Poktan Agni Mandiri lalu membuat kelompok-kelompok kecil berisi 10 orang. Tiap kelompok bertanggung jawab untuk membangun degester lengkap dengan instalasi biogas.

“Sebanyak 10 titik biogas kami selesaikan dalam dua bulan. Selama periode 2014-2018, kami berhasil membuat 106 titik biogas, satu rumah satu degester. Pinjaman dana dari LSM bisa tuntas selama 10 bulan karena tanpa bunga,” jelasnya.

Kini, warga Dusun/Desa Sruni menikmati hasilnya. Mereka bisa menghemat Rp 80 ribu per bulan untuk pembelian elpiji.

Dampak positif lainnya, warga tak perlu mencari kayu bakar dan berkubang dengan pekatnya asap dapur yang mengepul. Setiyo dan Poktan Agni Mandiri semakin tertantang memanfaatkan biogas untuk kebutuhan listrik rumah tangga.

Keberhasilan Poktan Agni Mandiri memacu ibu-ibu dusun setempat mendirikan kelompok wanita tani (KWT). Asyriah, anggota KWT Agni Mandiri Asyriah menuturkan, dengan memanfaatkan energi biogas, mereka membuat aneka keripik. Bahan bakunya diambil dari hasil panen sendiri.

“Anggota kami ada 16 orang, dan semuanya aktif. Produk keripik sudah ada yang mengambil. Tentunya bisa menambah pendapatan keluarga dan mengisi kas KWT. Setelah kas terkumpul, kami belikan bahan pokok untuk dibagikan setiap Lebaran,” urainya.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Boyolali Suraji mengapresiasi upaya warga Dusun/Desa Sruni mengubah limbah kotoran sapi yang menjadi polemik menjadi bermanfaat.

“Semangat warga Dusun/Desa Sruni kami jadikan percontohan bagi desa lainnya. Kami butuh agen-agen lingkungan seperti mereka,” terangya.

Terpisah, Pakar Lingkungan Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof Prabang Setyono menjelaskan, biogas merupakan teknologi terbarukan. Ada tiga hal penting yang harus dipahami untuk keberlangsugan energi terbarukan. Pertama, keberlanjutannya. Selama ini, indeks keberlanjutan rendah karena petani cenderung mandiri.

Kedua, untuk menjamin keberlangsungan butuh kelembagaan formal. Bisa dibentuk koperasi agar penyaluran bantuan lebih terjamin dan berimbang. Bisa menggandeng DLH untuk pembinaan dan up grading.

Berikutnya, ada regenerasi petani dan peternak guna menjamin keberlangsungan sumber energi.

“Tantangannya sering terjadi inkonsistensi. Warga cenderung pragmatis, maunya tiap hari kompor ya hidup. Sedangkan sumbernya dinamis. Sapinya bisa saja dijual untuk menutup kebutuhan keluarga, produktivitas biogas terganggu. Kecuali kalau sistemnya kolegial. Sehingga sumber biogas konstan,” beber dia. (rgl/wa/ria)

 

Editor : Syahaamah Fikria
#desa sruni #Boyolali #limbah #biogas #kotoran sapi