Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Lele Besar yang Dulu 'Terbuang', Kini Jadi Abon dan Keripik Menggiurkan: Tembus Pasar Luar Berkat Lapak Ganjar

Ragil Listiyo • Kamis, 19 Oktober 2023 | 05:54 WIB

 

Keripik lele buatan Poklahsar Wien di Kampung Lele Dusun Mangkubumen, Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, Boyolali, siap dikemas dan dipasarkan.
Keripik lele buatan Poklahsar Wien di Kampung Lele Dusun Mangkubumen, Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, Boyolali, siap dikemas dan dipasarkan.

RADARSOLO.COM - Kampung Lele di Dusun Mangkubumen, Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, telah menjadi ikon Boyolali. Konsep budidaya perikanan komoditas lele mampu dimanfaatkan dari hulu ke hilir. Tak hanya lele segar yang langsung dijual. Dari lele ini, usaha mikro kecil menengah (UMKM) produk olahan lele pun tumbuh dan berkembang. Bahkan kini telah merambah pasar mancanegara.

Kesibukan di Kampung Lele sudah terlihat sejak pagi setiap harinya. Bapak-bapak sibuk memanen dan memberi pakan ternak lele meraka. Sementara ibu-ibu, yang tergabung dalam kelompok pengolahan pemasaran (Poklahsar) sibuk memproses pembuatan keripik dan abon lele. Salah satunya di rumah produksi abon dan keripik Poklahsar Wien, yang mendapatkan bantuan promosi digital Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng).

"Akhir 2017 itu, bapak (suami,Red) tidak bisa menjual lele yang ukurannya agak besar. Dijual ke pemancingan, tapi sepi. Akhirnya daripada nggak terjual, saya coba buat olahan lele," ungkap Ketua Poklahsar Wien, Widarsih, 54, kepada Radarsolo.com.

Proses uji coba meracik dan formula yang tepat ternyata tak mudah. Awalnya, keripik lele terasa bantat dan keras. Warnanya pun tak menggugah selera, karena cenderung cokelat gelap.

Selama satu tahun mengutak-atik resep dan terus mencoba, upaya Windarsih membuahkan hasil. Dia pun percaya diri menjual keripik dan abon lele buatannya.

Windarsih menceritakan, awal merintis pemasaran keripik dan abon lele, dia hanya menyasar lingkup pasar lokal. Apalagi saat itu, dia hanya memproduksi olahan ikan lele sekitar 15 kilogram per hari.

Dari dapur rumah itu, dia menghasilkan tiga jenis keripik. Yakni, keripik sirip, keripik kulit dan keripik daging, masing-masing tahan tiga sampai empat bulan. Lalu, dia juga membuat abon lele yang tahan hingga tujuh bulan. Selain itu, ada olahan lele segar berupa nugget, bakso hingga pepes lele.

Tak mau untuk sendiri, Winarsih pun lantas mengajak ibu-ibu sekitar rumahnya untuk membantu proses produksi olahan lele. Naas, tiba-tiba pandemi Covid-19 melanda. Winarsih harus memutar otak agar usahanya tetap jalan.

Hingga akhirnya, sang anak punya ide untuk membuatkan akun media sosial (medsos) untuk memperluas jangkauan pasar olahan lele Poklahsar Wien. Kebetulan, saat itu Pemprov Jateng memiliki program Lapak Ganjar, yang diinisiasi Gubernur Jateng kala itu, Ganjar Pranowo.

Poklahsar Wien langsung di-repost Ganjar Pranowo. Berkat promosi digital gratis dari Pemprov Jateng itu, produk olahan lele buatan Winarsih pun akhirnya menjadi dikenal tak hanya lingkup lokal sekitar daerahnya.

"Alhamdulillah, kami produksi keripik bisa 45 kilogram (lele) per hari, tapi kalau pas ramai bisa 80 kilogram. Kalau abon bisa satu kuwintal lele per hari, pas ramai ya 1,2 kuwintal. Setelah ada bantuan promosi itu, orderan makin banyak, naik 60-70 persen. Dari 25 kilogram produksi jadi 45 kilogram," terang dia.

Selain kapasitas produksi meningkat, pemasaran Poklahsar Wien juga kian meluas. Awalnya hanya dipasarkan lokal, kini bisa menjangkau seluruh Indonesia. Seperti Sumatera, Kalimantan, Ambon dan lainnya.

Bahkan, orderan juga datang dari konsumen mancanegara, seperti Singapura, Tiongkok, dan Jepang. Permintaan konsumen via penjualan online ini selalu ada setiap harinya.

Lantas, bagaimana dengan ketersediaan bahan bakunya? Dikatakan Winarsih, dia dan ibu-ibu lain yang membantunya tak perlu khawatir risau. Sebab, budidaya lele dari Kampung Lele sudah sangat mencukupi. Apalagi dari kualitas dagingnya, kata Winarsih, juga lebih kesat dibanding lele dari luar daerah. Harga lele ukuran besar pun hanya Rp 19 ribu per kilogram.

"Alhamdulillah kami terbantu program Lapak Ganjar, karena jadi banyak yang tahu, lho kok ada olahan seperti ini. Dan akhirnya bisa jadi oleh-oleh dan ciri khas Kampung Lele. Alhamdulillah rasanya cocok, paling laku (keripik) kulit dan sirip karena perbandingannya 1 per 11 itu. Omzetnya per bulan bisa Rp 8,5 juta, pas ramai ya bisa lebih," paparnya.

Lele segar hasil budidaya di Dusun Mangkubumen, Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, siap diolah jadi keripik lele.
Lele segar hasil budidaya di Dusun Mangkubumen, Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, siap diolah jadi keripik lele.

Ketua Kelompok Pelaku Utama Perikanan Karya Mina Utama Kampung Lele Tri Hardjono menerangkan, ada sekitar 1,5 ribu pelaku budidaya lele di Dusun Mangkubumen. Produksi lele segar mencapai 12 ton per hari. Petani lele akan menyortir ikan sesuai ukuran minat di pasaran. Jika ukurannya agak besar, maka akan disisihkan.

"Paling besar minat lele ukuran sedang ya. Pasarnya itu, 85 persen ke Jogjakarta, serta 15 persen ke lokal seperti Boyolali, Klaten, Sukoharjo. Selain dijual segar, lele yang agak besar ini dimanfaatkan oleh tiga UMKM pengolahan lele," jelasnya.

Berbagai macam olahan berbahan dasar lele menunjukkan integrasi perikanan di kampung ini. Proses hulu ke hilir, strategi produksi maupun pemasaran yang tepat, mampu mendongkrak nilai jual.

Pemberdayaan masyarakat sekitar pun berjalan dan saling menguntungkan. Para pelaku UMKM tak perlu khawatir kehabisan bahan baku. Sebaliknya pelaku budidaya tak bingung menjual lele yang berukuran besar.

"Satu UMKM bisa habis setengah kuwintal. Sekarang naik sampai 750 kilogram sampai 1 kuwintal. Karena peminat abon juga makin banyak, apalagi saat Idul Fitri. Itu baru satu UMKM, kebutuhannya segitu. Kalau tiga UMKM, ya bisa sehari 1 kuwintal, itu baru untuk abon. Kalau istilahnya di sini, perikanan kampung lele sudah terntegrasi dari hulu ke hilir," terang Hardjono.

Salah satu pembeli keripik lele asal Klaten, Masyriyah mengaku, dia kerap membeli olahan ikan dari Kampung Lele. Selain rasanya yang gurih dan kesat, lelenya juga dinilai segar.

"Sudah langganan beli di sini. Enak dan cocok buat oleh-oleh cucu di Jawa Barat. Kalau ke sini, mintanya dibeliin keripik sama abon lele, sudah cocoklah," ujarnya.

Kabid Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali Nurul Nugroho mengamini, Kampung Lele tak hanya berfokus pada budidaya lele. Namun, juga produk olahan perikanan. Pihaknya memberikan pendampingan, bantuan sarana prasarana (sarpras) produksi dan pembinaan UMKM.

"Ada tiga UMKM perikanan, kami lakukan pendampingan sampai dengan pemasaran dan bantuan usaha," jelasnya.

Terpisah, Kabid Usaha Mikro, Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja (Diskopnaker) dan UMKM (Diskopnaker dan UMKM) Boyolali Nunung Susilowati menyebut, ada 48.336 UMKM yang didorong untuk go digital.

"UMKM yang sudah g digital kurang lebih 200 usaha. Kami terus mendorong melalui berbagai kegiatan agar yang memasarkan secara digital ini makin banyak. Termasuk program pelatihan dan pemasaran digital dari pemprov. Karena ternyata membawa dampak ke UMKM, lebih bagus untuk tampilan usahanya. Dampaknya ke masyarakat jadi mendapat informasi yang lebih luas," katanya. (rgl/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#budidaya #Lapak Ganjar #Boyolali #lele #pemprov jateng #kampung lele #umkm #promosi digital