RADARSOLO.COM - Pemasangan girder overpass Ngasem penyambung exit tol Colomadu dengan jalan Tol Solo-Jogja berlangsung cepat, Selasa (31/10) malam.
Pemasangan satu girder hanya memakan waktu sekitar 15 menit saja. Jelang tengah malam, atau sekitar 23.30 WIB, sudah delapan girder yang terpasang.
Pantauan Radarsolo.com, pengerjaan erection girder overpass Ngasem-jalan Tol Solo-Jogja dipasangkan di stasioning (STA) 0+500. Proses pemasangan 12 girder ini dijadwalkan selama empat hari, mulai Senin (30/10) hingga Kamis (2/11).
Namun, pemasangan girder diprediksi rampung lebih cepat. Sebab, pada hari pertama sudah enam girder di lajur timur terpasang. Melebihi target empat girder per hari.
Sementara pada Selasa pukul 23.30, total delapan girder sudah terpasang. Bahkan pukul 23.45, girder kesembilan mulai dipasang. Proses pemindahan girder dengan truk besar dan pemindahan pengaman ke tali craine memakan waktu 10 menit.
Setelah masing-masing sisi terpasang tali crain, balok girder perlahan dinaikkan. Proses pemasangan girder ke pilar jembatan itu memakan waktu hampir 15 menit.
Setelahnya, petugas yang bersiaga di Tol Solo-Jogja dan tiang bahu exit tol mulai melepaskan pengaman tali crain. Dilanjutkan dengan pengelasan untuk menyambungkan kedua sisi tol.
Direktur Utama PT Jasa Marga Joga-Solo (JMJ) Suchandra Hutabarat mengatakan, Jembatan Ngasem merupakan titik awal dari jalan Tol Solo-Jogjakarta-Kulon Progo. Sekaligus menjadi penghubung jalan Tol Jogja-Solo dengan Jalan Tol Trans-Jawa.
"Jumlah balok jembatan yang akan diinstalasi adalah sebanyak 12 buah dengan berat 80 ton dan panjang 40,8 meter. Erection ini dilaksanakan pada bentang antara dua pilar jembatan (pier) yang berlokasi di atas pertigaan exit tol Colomadu," jelasnya, Selasa (31/10) malam.
Candra menjelaskan, seminggu sebelumnya, telah dilakukan pekerjaan stressing girder atau balok jembatan. Baru dilanjutkan dengan erection girder.
"Proses erection girder ini memiliki banyak aspek teknis yang perlu diperhatikan berdasarkan kriteria kualitas, waktu, biaya, metode dan risiko," imbuhnya. (rgl/ria)
Editor : Syahaamah Fikria