RADARBOYOLALI.COM-Calon presiden (Capres) Ganjar Pranowo menjenguk Slamet Andono, 26, dan Arif Diva Ramandani, 20, relawan Ganjar-Mhafud yang menjadi korban penganiayaan oknum TNI di Rumah Sakit Pandan Arang, Boyolali, Minggu (31/12/2023).
Ganjar didampingi Siti Atiqoh, sang istri. Terlihat pula Ketua Tim Pemenangan Daerah (TPD) Ganjar-Mahfud Jateng Agustina Wilujeng Pramestuti.
Para tokoh PDIP Boyolali seperti Seno Kusumoarjo, Susetya Kusuma, Marsono, M. Said Hidayat, Wahyu Irawan, dan anggota DPRD Boyolali fraksi PDIP.
Mereka tiba di RS Pandan Arang sekira pukul 21.14 dan langsung naik ke lantai tiga bangsal paviliun untuk menjenguk Slamet Andono dan Arif Diva Ramandani.
Ganjar berbincang dengan Slamet perihal kejadian nahas yang menimpa warga Kecamatan Cepogo itu. Berlanjut menemui Diva yang masih terbaring di kasur.
Tak kuasa melihat kondisi Diva yang belum bisa diajak berkomunikasi, Atiqoh keluar dari kamar. Dia menutup mukanya, terlihat menitikan air mata dan mengusapnya dengan tisu.
Atiqoh memilih menunggu di luar ruangan hingga kunjungan usai. "Nggak tega dengar ceritanya," singkat Atiqoh.
Sementara itu, Ganjar menjelaskan, ada tujuh relawan Ganjar-Mahfud yang menjadi korban penganiayaan oknum TNI. Dua diantaranya masih menjalani perawatan. Hanya satu relawan yang sudah bisa diajak berkomunikasi.
"Pemeriksaan dokter sudah baik, bagus ya. Tidak ada gegar otak, tulangnya bagus. Hanya memar-memar saja. Parah di bagian gigi dan sebagainya, itu kondisinya," jelas Ganjar.
Dari penuturan Slamet, imbuh Ganjar, saat kejadian, Slamet sedang berhenti di traffic light dan tiba-tiba mendapat pemukulan oknum TNI. Aksi penganiayaan terjadi di luar maupun di dalam markas Kompi B Yonif Raider 408 Suhbrastha.
"Kalau ada penjelasan lainnya, rasa-rasanya harus ada pengadilan biar penjelasannya tidak pating blasur (Simpang siur,Red). Semuanya sama. Yang kedua tadi kita juga tidak tahu ceritanya seperti apa. Karena saya tidak sempat bicara. Tetapi, yang pertama tadi menceritakan setelah itu dia ditarik ke dalam (markas TNI). Dipukuli orang berseragam (Oknum TNI,Red)," urai Ganjar.
Ditegaskan Ganjar, kejadian ini harus menjadi peringatan. Jika ada yang melanggar aturan, lebih baik diserahkan kepada aparat yang berwenang. Sehingga tidak terjadi aksi main hakim sendiri.
"Siapa pun tidak boleh mengatasnamakan apa pun dengan semena-semena. Kami akan urus itu, dan kami komunikasi dengan teman-teman di Jakarta juga sudah bicara dengan Pak Panglima TNI dan Pak Kasad," ungkap Ganjar.
"Saya sudah komunikasi dengan Pak Pangdam. Dan sambutannya baik tadi. Ada tim dari saya untuk bisa dikomunikasikan terus-menerus mengenai perkembangannya. Kami akan ikuti terus," tegasnya.
Lebih lanjut diungkapkan Ganjar, salah seorang korban merupakan yatim piatu. Sehingga keluarganya pasrah. Ganjar berpesan agar korban dirawat sebaik-baiknya.Biaya pengobatan di-cover oleh DPC PDIP Boyolali. (rgl/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono