RADARBOYOLALI.COM – Ancaman bencana masih rawan terjadi di wilayah Solo Raya. Baik hujan angin, banjir hingga tanah longsor. Sebab itu, masyarakat di daerah rawan diminta waspada.
Upaya mitigasi bencana pun mulai dilakukan. Seperti BPBD Boyolali sudah memasang tiga early warning system (EWS) bencana longsor di Kecamatan Wonosegoro dan Kemusu.
Sementara di Kota Solo mulai memangkas pohon-pohon rimbun dan antisipasi ancaman banjir.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Boyolali Suratno mengatakan, ancaman bencana alam mulai terjadi sejak akhir 2023 sampai awal Januari ini. Dia meminta masyarakat untuk memitigasi sejak dini.
Termasuk membersihkan drainase atau saluran air. Agar banjir bandang seperti di Selowangen, Desa/Kecamatan Selo akhir 2023 tidak terulang.
Hal tersebut juga berlaku bagi daerah potensi banjir seperti di Kecamatan Ngemplak, Kemusu.
Suratno menjelaskan, telah menggandeng Pemdes Sawahan, Kecamatan Ngemplak dalam kegiatan normalisasi kali Grenjeng.
Daerah tersebut dan sekitarnya memang kerap terjadi banjir bandang. Pada aliran kali itu terdapat dua pulau dengan rumpun bambu selama 15-20 tahunan.
"Kemudian bertambah sampah, tanah, lumpur macam-macam. Kemudian menjadi pulau. Jadinya ketika airnya besar saat penghujan, airnya menggerus dan mengabrasi dinding-dinding tanah warga. Lalu kami kerja sama, kami sediakan alat ekskavator besar dan operatornya. Normalisasi berlangsung lima hari selesai pada akhir tahun lalu," paparnya saat ditemui di kantornya, Minggu (7/1).
Khsusus di Kecamatan Kemusu, terdapat pertemuan dua sungai besar. Yakni, Sungai Braholo dan Sungai Serang. Potensi lipasan air menyebabkan banjir.
Meski masyarakat sudah menyiapkan kawasan sabuk hijau untuk mengantisipasi limpahan air. Kawasan sabuk hijau itu berada di lahan milik Balai Besar Wilayah Sungai Pemali - Juana.
"Kami sudah ada tim siaga desa. Lalu ada juga 23 desa tangguh bencana di Boyolali. Kami harap desa-desa itu dapat meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana yang diprediksi sampai Februari ini," jelasnya.
Kemudian, BPBD Boyolali telah memasang tiga alat EWS di Kecamatan Wonosegoro dan Kemusu.
Alat itu akan memberikan warning ketika terjadi tanah gerak dan potensi longsor. Pemasangan EWS dilakukan pada 2023 lalu.
Selain dua wilayah itu, potensi tanah longsor juga mengintai Kecamatan Karanggede, Cepogo, Selo, Gladagsari dan sebagian Musuk.
"Bencana hidrometereologi ini masih berhubungan erat dengan badai El-Nino yang bisa sampai Februari. Potensi bencana mulai datangnya musim hujan harus jadi perhatian masyarakat, guna meminilasasi dampak kerugian," imbuhnya.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah juga memberi warning bahwa hujan sedang-lebat disertai angin kencang diperkirakan masih akan berlangsung pada Januari – Februari.
“Secara umum saat ini wilayah Jateng sudah masuk musim penghujan. Untuk puncak musim penghujan secara umum di Januari – Februari,” terang Prakirawan Cuaca BMKH Ahmad Yani Semarang Winda Ratri, Rabu (3/1) sore.
Menimbang potensi curah hujan tinggi dengan intensitas sedang–lebat disertai angin kencang yang bisa muncul sewaktu-waktu, BMKG Jateng meminta masyarakat waspada akan potensi bencana.
Seperti hujan lebat disertai petir atau angin kencang, banjir, genangan air, pohon tumbang, sambaran petir, dan lainnya.
Masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan dan pegunungan juga perlu waspada akan terjadinya longsor dan sejenisnya. (rgl/bun)
Editor : Damianus Bram