RADARBOYOLALI.COM - Banjir yang melanda Dusun Ledok, Desa Sawahan, Kecamatan Ngemplak mulai surut pada Jumat (12/1) dini hari.
Banjir setinggi 140 sentimeter itu ini menyebabkan 171 jiwa mengungsi. Banjir luapan Sungai Grenjeng tersebut merupakan yang terparah sejak 2009 silam.
Pantauan RadarBoyolali.com di Dusun Ledok, Desa Sawahan, para warga tengah sibuk membersihkan rumahnya.
Meski rumah warga sudah ditinggikan, namun banjir luapan Sungai Grenjeng tetap masuk rumah setinggi 50 sentimeter.
Sedangkan luapan air tertinggi di jalan-jalan sekitar mencapai 140 sentimeter.
Terlihat, para warga sibuk mengeluarkan perabot rumah tangga yang basah. Seperti kasur, karpet, buku-buku dan lainnya.
Mereka juga menyemprotkan air pada lantai untuk membersihkan sisa lumpur yang terbawa banjir.
Salah satu lokasi terparah ada di Perumahan Mirai Jati 3 di Dusun Ledok. Lokasinya berada di paling bawah, Bahkan pagar pengaman yang berbatasan dengan Sungai Grenjeng ambrol.
Warga setempat, Suparminingsih mengaku tidak menyangka banjir luapan Sungai Grenjeng sampai masuk rumah.
Pasalnya pondasi rumahnya sudah dibuat lebih tinggi dibandingkan jalan didepan rumahnya. Namun air tetap masuk rumah dengan ketinggian mencapai 50 sentimeter.
"Sejak tahun 2009, ya baru kali ini kembali terjadi banjir hingga masuk rumah. Biasanya, banjir hanya menggenangi jalan saja," ungkapnya.
Ketua Rt 03 Rw 07 Desa Sawahan, Kecamatan Ngemplak, Bambang Supriyanto mengatakan air luapan naik begitu cepat. Warga tak sempat bersiap-siap menyelamatkan barang-barangnya.
Bahkan, ketinggian air naik mencapai sekitar satu meter. Hal itu membuat warganya harus mengungsi.
"Seluruh warga yang mengungsi sudah pulang ke rumah masing- masing. Pagi ini mereka membersihkan endapan lumpur dan perabot rumah," imbuhnya.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Boyolali, Suratno, mengatakan banjir melanda Desa Kismoyoso dan Sawahan. Paling parah terjadi di Dusun Ledok Desa Sawahan.
Banjir masuk ke pekarangan rumah warga pukul 19.40 WIB. Hal ini menyebabkan 171 warga mengungsi.
Saat ini warga sudah kembali ke rumah masing-masing dan melakukan kegiatan gotong royong membersihkan rumah dan sekitar pemukiman.
Suratno menjelaskan pada saat itu sebanyak 44 warga mengungsi ke posko pengungsian. Sedangkan 127 warga menginap di tempat sanak saudara
"Yang bertahan di rumah itu ada 29 jiwa. Jadi tim reaksi cepat (TRC) kembali pukul 00.30-an (12/1). Saat itu kondisi relatif terkendali dan terkondisikan," terangnya.
Dia menjelaskan lokasi banjir terletaknya 1,5 kilometer dari Dusun Sadon, lokasi normalisasi Sungai Grenjeng.
Suratno menjelaskan, penyebab banjir dikarenakan sedimentasi sungai Grenjeng di muara menuju Bengawan Solo.
"Alirannya setelah Dusun Sadon baru 1,5 kilometer Desa Ledok. Yang banjir itu yang selepas dilakukan normalisasi. Penyebab banjir itu, memang ada pendangkalan yang berpengaruh pada laju arus aliran sungai, dimana arus, harusnya lancar. Kebetulan di Dusun Ledok ini merupakan cekungan yang relatif titik rendahnya agak dalam. Air itu terkesan mandek dulu, terus meluap baru berangsur surut," jelasnya.
Sedangkan terkait taksiran kerugian belum ada laporan. Pihaknya masih menunggu laporan dari daerah. Agar mendata nilai kerugian akibat banjir tersebut.
"Apabila terjadi kerugian, dan ditindaklanjuti tingkat kabupaten, melalui asesment. Serta hal-hal apa yang sekiranya perlu intervensi pemkab," tandasnya.
Kapolsek Ngemplak, Iptu Windarto menjelaskan ada sekitar 200 warga yang terdampak banjir luapan Sungai Grenjeng.
Menurutnya Luapan banjir itu terjadi lantaran wilayah Ngemplak diguyur hujan deras dengan durasi cukup lama, yakni dari pukul 15.30 sampai 18.00. Karena luapan air cukup tinggi, warga langsung dievakuasi.
"Kami bersama stakeholder terkait bergerak cepat untuk meminimalkan dampak kerugian harta benda dan memastikan keselamatan masyarakat yang terdampak. Kemudian, begitu (Air banjir) surut jam 00.00 malam, (Para pengungsi,Red) langsung kembali ke rumah masing-masing," terangnya. (rgl/dam)
Editor : Damianus Bram