RADARSOLO.COM - Selama sepekan terakhir, hujan mengguyur puncak Gunung Merapi.
Selain guguran awan panas, masyarakat juga harus mewaspadai banjir lahar dingin.
Termasuk agar tidak beraktivitas di sungai aliran lahar Merapi dan daerah bahaya yang direkomendasikan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja.
Informasi dari BPPTKG Jogja, hujan yang terjadi di puncak Merapi terjadi sejak pukul 12.57 pada Kamis (18/2).
Total curah hujan di puncak mencapai 6,8 mm dengan intersitas hujan 4,3 mm. Hujan yang terjadi di puncak Gunung Merapi berlangsung 1 jam 35 menit.
Hujan puncak Merapi tersebut perlu diwaspadai. Lantaran berpotensi terjadi banjir lahar dingin di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
Selain itu, awan panas guguran juga masih berpotensi bahaya.
Untuk itu, BPPTK mengimbau masyarakat agar menjauhi daerah bahaya yang direkomendasikan.
Sementara itu, laporan infografis Gunung Merapi pada 17 Januari tercatat, aktivitas kegempaan terjadi 94 guguran, lima fase banyak dan dua awan panas.
Dua kali awan panas guguran mengarah ke barat daya atau Kali Bebeng dengan jarak luncur maksimal 1,5 kilometer.
Selain itu, terjadi guguran lava pijar ke arah Kali Bebeng dengan jarak luncur maksimal 1,5 kilometer.
BPPTKG merekomendasikan agar masyarakat menghindari aktivitas di daerah potensi bahaya.
Terlebih suplai magma masih berlangsung.
Hal itu memicu terjadinya awan panas guguran di daerah potensi bahaya.
Di samping itu, potensi banjir lahan dingin juga berpotensi terjadi. Menilik hujan kerap terjadi di puncak Merapi.
"Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan ditinjau kembali," tulis BPPTKG Jogja di akun X.
Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Boyolali Suratno mengatakan, curah hujan semakin tinggi di Gunung Merapi.
Hal itu bisa berpotensi terjadinya banjir lahar dingin.
Selain itu, awan panas guguran juga terpantau meluncur beberapa kali terjadi.
"Masyarakat Boyolali dan sekitarnya di kawasan rawan bencana (KRB) III, khususnya di Desa Jrakah, Klakah dan Tlogolele Kecamatan Selo, kami imbau untuk lebih meningkatkan kewaspadaan dan menghindari kawasan (bahaya) yang direkomendasikan BPPTKG Jogja," terangnya.
Informasi terkait aktivitas Gunung Merapi bisa dipantau melalui akun resmi BPPTKG.
Di sisi lain, Boyolali juga dilintasi Kali Apu yang berhulu dari Gunung Merapi.
Kali Apu ini melintasi Desa Tlogolele dan Klakah.
"Saya imbau agar masyarakat menghindari aktivitas yang berpotensi bahaya di kawasan itu. Mari kita tingkatkan kesiapsiagaan, kewaspadaan," Suratno.
Dengan kesiapsiagaan itu, kata dia, harapannya dapat menekan atau menghilangkan potensi bahaya yang timbul terkait aktivitas Gunung Merapi dan curah hujan tinggi di puncak. (rgl/bun/ria)
Editor : Syahaamah Fikria