RADARSOLO.COM-Berawal dari kemauan yang kuat, Yusi Aristiyani mendorong para ibu rumah tangga agar bisa berdikari.
Tak hanya teori. Dia secara intens melatih mereka agar bisa menghasilkan uang lewat kerajinan ecoprint.
Siapa sangka, dari rumahan, produknya sudah merambah ke berbagai daerah di Indonesia.
Saat ecoprint atau batik dengan bahan alami belum popular, Yusi sudah belajar tentang ilmu kerajinan ini ke Salatiga pada awal 2015.
Saat itu ecoprint belum ramai seperti sekarang. Kemudian dari sisi harga masih sangat mahal.
"Karena saya biasa di bidang keterampilan, jadi kepo. Saya cari tahu, kemudian kursus (ecoprint) di Salatiga," ujar perempuan yang tinggal di Desa Mojolegi, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali.
Karena bergerak di bidang pemberdayaan perempuan, ilmu yang didapat Yusi langsung dia share di komunitas.
Namun, kegiatan tersebut sempat vakum selama lima tahun, karena dia mengandung hingga ngurus bayinya.
Hingga akhirnya Yusi kembali aktif berkegiatan pada 2020.
"Kalau produksi memang saya tidak banyak. Ketika ada event baru saya produksi atau ketika ada pesanan saja,” katanya.
“Saya fokus untuk memberdayakan. Jadi saya ajak teman-teman berkarya bareng. Saya buat formula baru agar teman-teman lebih mudah untuk membuat ecoprint," imbuh Yusi.
Dia teringat dengan tagline komunitasnya, yakni Cara Malas Hasil Puas. Artinya, membuat produk kerajinan yang mudah, namun punya kualitas yang memuaskan.
Menganut cara klasik, membuat ecoprint dimulai dari proses mordanting. Diawali kain direbus menggunakan tawas, soda, hingga penambahan tunjung.
Namun semakin bertambahnya zaman, orang menuntut kepraktisan. "Sehingga saya membuat formula yang sangat praktis,” ucap Yusi.
Yaitu mencelupkan kain ke cairan mordan. Setelah itu, kain diperas dan dibentangkan. Setelah itu daun-daun ditata. Bisa diberi warna atau tidak.
“Untuk pewarnaan, kain yang sudah ditata daun, diselimuti kain yang sudah diberi warna. Setelah itu digulung dan diikat, kemudian dikukus selama kurang lebih dua jam," beber dia.
Setelah proses tersebut, kain dikeluarkan dan dijemur hingga kering. Setelah kering, kain bisa dicuci dan dkeringkan kembali untuk dijual dalam bentuk lembaran.
Atau diproses kembali menjadi produk lain seperti tas, dompet, atau baju.
"Paling banyak saya buat tas, karena harganya lebih murah, jadi jualnya lebih cepat. Kalau dalam bentuk kain, untuk kain ukuran 2,5 meter itu dijual Rp 250 ribu," ujar Yusi.
Ditambahkan ibu lima anak ini, tidak semua daun bisa digunakan. Ada beberapa daun yang menjadi favorit ecoprint. Seperti daun afrika, daun lanang, jambu, jarak wulung dan klengkeng.
"Tetap dilakukan percobaan dulu. Kadang ada yang daunnya bagus, tapi tidak bisa keluar motifnya di kain," katanya.
Produk ecoprint ala Yusi tembus ke berbagai daerah di Indonesia. Dia kerap digandeng Pemkab Boyolali dan Pemprov Jateng untuk memberi pelatihan.
Dari pelatihan itu, Yusi membuat komunitas baru untuk sama-sama melakukan produksi.
"Jadi jangan sampai sudah ikut pelatihan, sudah ada ilmu, tapi tidak dikembangkan,” pesannya.
Yusi bercita-cita menjadiakn desanya sebagai sentra edupreneuer atau desa rujukan wisata wirausaha. (atn/bun)
Editor : Tri Wahyu Cahyono