RADARBOYOLALI.COM-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut Pemkab Boyolali melakukan kecurangan dalam pengisian kuisioner survei penilaian integritas (SPI) 2023.
Hal tersebut dibantah Inspektorat Boyolali. Inspektur Boyolali Gatot Murdiyanto menjelaskan, jumlah personel ASN di Pemkab Boyolali sebanyak 7.308 personel.
Kemudian, Pemkab Boyolali mengajukan sekitar 1.000 responden untuk mengisi SPI KPK 2023.
“Tidak ada (pengondisian jawaban). Karena responden internal kami sudah mengikuti e-learning itu. Kami tidak mengisi google form. Mana sempat, kami tidak tahu siapa respondennya," tegasnya, Selasa (30/1/2024).
Gatot lalu mengurai alur pengisian SPI 2023. Sebelum pengisian SPI, KPK telah memberikan sosialisasi.
Dari sekitar 1.000 responden yang diajukan, ada sekitar 150 ASN yang mendapatkan WhatsApp (WA) blasting.
Responden terpilih itupun dipilih langsung oleh KPK untuk sampling dalam SPI.
"Kami tidak tahu siapa saja yang mendapat WA blast itu. Memang ada beberapa responden yang tanya ke kami karena kurang memahami pertanyaan kuisioner SPI itu. Saya minta, ya dijawab saja, sesuai hati nuranimu," papar Gatot.
Gatot memastikan tidak ada intervensi apalagi pengondisian jawaban.
Namun, hasil SPI yang menunjukkan skor tinggi menimbulkan kecurigaan lembaga antirasuah, sehingga KPK memberikan surat teguran untuk tidak mengarahkan jawaban bagi responden dalam survei ini.
KPK lalu mengulang pengisian SPI di Kabupaten Boyolali. Responden diambil secara acak oleh KPK.
Hanya saja, hasilnya masih sama. Sehingga skor SPI dianggap masih mencurigakan.
"Padahal, dalam survei yang kedua ini, sudah tidak ada lagi pernyataan dari responden," ungkapnya.
Gatot mengamini, sejak 2021, nilai SPI Boyolali memang tinggi. KPK merekomendasikan agar integritas Boyolali dipertahankan. Termasuk budaya antikorupsi juga dijalankan.
Menurutnya, skor tinggi SPI juga dipengaruhi oleh Anti-Corruption Learning Center (ACLC) yang diselenggarakan KPK. Seluruh ASN telah mengikutinya.
"Jadi nggak cuma ikut sekali, tapi ada yang sampai tiga dan empat kali yang ikut program ACLC itu. Jadi, mereka (responden) sudah sangat memahami kuisioner dalam SPI," papar Gatot. (rgl/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono