Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Mengenal Tradisi Sadranan di Cepogo dan Musuk Boyolali: Makanan di Tenongan Jadi Rebutan, Rezeki Deras Mengalir

Ragil Listiyo • Selasa, 27 Februari 2024 | 02:51 WIB
Tradisi sadranan di Makam Puralaya, Dusun Tunggulsari, Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali,  Senin (26/2/2024).
Tradisi sadranan di Makam Puralaya, Dusun Tunggulsari, Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Senin (26/2/2024).

RADARSOLO.COM- Tradisi sadranan di Kecamatan Cepogo dan Musuk, Kabupaten Boyolali tak pernah absen.

Ratusan warga datang ke tempat pemakaman umum membawa tenongan berisi jajanan dan makanan

Baca Juga: Jelang Tradisi Sadranan, Harga Bunga Tabur Ikut Meroket

Radarsolo.com memantau tradisi sadranan di Makam Puralaya, Dusun Tunggulsari, Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Senin (26/2/2024).

Masyarakat berbagai usia dan latar belakang kompak membawa tenongan dari anyaman bambu maupun alumunium menuju ke halaman makam.

Mereka mengikuti doa bersama dengan khidmat. Begitu doa selesai, masyarakat berebut isi tenongan untuk disantap bersama.

Berbagai jajajan seperti sagon, wajik, jadah, klepon serta aneka makanan ringan modern hingga buah-buahan langsung ludes.

Sebagian dimakan langsung, namun ada pula yang dimasukkan dalam kantong plastik untuk dibawa pulang sebagai oleh- oleh.

Warga percaya bahwa semakin banyak yang mengambil makanan dalam tenong, maka rezeki pembawa tenong bakal semakin lancar.

Setelah itu, masyarakat akan saling berkunjung. Bersilaturahmi ke rumah-rumah warga.

Banyak perantau yang pulang untuk bisa ikut dalam tradisi sadranan. Sekaligus membersihkan makam leluhurnya.

Hambali, warga Tegal, Jateng, mengaku selalu hadir ke Sukabumi, Cepogo untuk berziarah ke makam leluhurnya di pemakaman Puralaya.

Dia tiba di Boyolali Minggu malam. Lalu mengikuti tahlil dan paginya ikut besik (bersih) makam.

"Hampir setiap tahun di bulan Ruwah, saya sempatkan ke sini sama keluarga. Nanti sore sudah pulang," ungkapnya.

Senada diungkapkan Lia, warga asal Mijen, Semarang. "Kami malah berkumpulnya pas hari sadranan ini. Namun tahun ini, saudara di Pekanbaru berhalangan datang," jelas dia.

Rokhani, warga Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali menjelaskan, sadranan merupakan ritual yang sudah berlangsung turun temurun.

Warga akan menggelar zikir tahlil di makam, Minggu (25/2/2024) malam. Lalu keesokan harinya, dilakukan besik atau bersih-bersih makam. Warga akan membawa tenongan berisi makanan.

Tradisi ini sudah berlangsung sejak tahun 1.500-an. Menjadi cikal bakal Dusun Tunggulsari, Desa Sukabumi, Cepogo.

Penyebar agama Islam pertama di desa setempat, Kyai Bonggol Jati alias Syekh Maulana Ibrahim mulai babat alas.

Munculah tradisi bubak atau membersihkan makam dan besik atau ziarah kubur. Awalnya, makanan yang dibawa berupa makanan palawija untuk pengganjal perut.

Sadranan rutin digelar tiap pertengahan bulan Sya’ban atau Ruwah dalam penanggalan Jawa. Yakni tiap 17 Sya'ban atau 16 Ruwah yang jatuh Senin (26/2/2024).

Ruwah juga dimaknai sebagai bulan arwah, masa untuk mendoakan para leluhur. Awalnya, tradisi sadranan hanya digelar sederhana. Kini, makanan untuk sadranan sudah bervariasi. (rgl/wa)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#Boyolali #ruwah #Sadranan #cepogo #musuk #Tenongan