Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Misteri Aura Kayu di Dusun Sidotopo, Cepogo: Ini Ceritanya

Ragil Listiyo • Senin, 4 Maret 2024 | 01:04 WIB
SAKRAL: Tarian ruwat dari gazebo pertapaan Dusun Sidotopo, Desa Cabeankunti, Kecamatan Cepogo, Boyolali.
SAKRAL: Tarian ruwat dari gazebo pertapaan Dusun Sidotopo, Desa Cabeankunti, Kecamatan Cepogo, Boyolali.

RADARSOLO.COM - Dusun Sidotopo, Desa Cabeankunti, Kecamatan Cepogo, Boyolali masih memegang adat turun-temurun.

Penamaan dusun ini diambil dari bekas pertapaan di tengah hutan yang terkenal sakral dan penuh misteri.

Ada cerita, kayu bekas bangunan rumah dari dusun tersebut tidak boleh dibawa keluar.

Kondisi pertapaan di Dusun Sidotopo masih terjaga. Termasuk adat istiadat dan keseniannya.

Salah satunya tarian ruwat Jangkrik Ngentir. Tarian ini sering dibawahan beberapa penari laki-laki di dalam kompleks pertapaan.

“Nama Dusun Sidotopo diambil dari bekas pertapaan kuno yang masih lestari sampai sekarang. Termasuk melestarikan tarian Jangkrik Ngentir,” kata sesepuh Dusun Sidotopo Slamet Seno, Sabtu (2/3/2024).

Seno menambahkan, ada cerita misteri yang masih dipercaya warga sekitar. Di mana kayu bekas bangunan yang direnovasi, tidak diperkenankan dijual, termasuk diberikan ke orang lain dari luar dusun.

“Biasanya warga renovasi rumah itu yang diganti kayu pilar dan blandar (atap). Tapi warga sini tidak berani menjual atau memberikan bekas kayunya ke luar dusun," jelas Seno.

Dibiarkan tergeletak di halaman. Tapi sekarang sudah dikumpulkan dan dibuat gazebo di pertapaan,” imbuhnya.

Kekhawatiran warga bukan tanpa sebab. Seno mengaku, semua kayu yang ditanam di Dusun Sidotopo, tidak ada yang berani membawa keluar dusun.

Karena warga percaya, kayu-kayu itu bisa membawa aura panas dan meminta dikembalikan ke tempat semula.

Cerita mistis ini pernah dialami Seno, yang menggeluti pekerjaan sebagai tukang kayu. Pernah dia mendapat pesanan mebel dari luar dusun.

Sejatinya bahan dasar kayunya dibeli dari luar dusun. Hanya saja, Seno memakai pengunci semacam paku dengan kayu dari Dusun Sidotopo.

Awalnya tidak ada yang aneh. Setelah mebel jadi, lalu diserahkan ke orang yang memesan. Di sinilah keanehan terjadi.

Setiap malam, mebel untuk wadah televisi itu sering bergerak. Juga sering mengeluarkan suara benturan tiap malam. Kejadian ini berlangsung selama beberapa hari. 

“Lalu orang yang memesan datang ke rumah saya. Cerita kalau mebelnya tiap malam glodakan (bergerak), lalu dikembalikan. Padahal saya pakai kayu dari sini cuma kecil saja. Akhirnya saya ganti dengan kayu dari luar dusun,” kenang Seno.

Selain itu, Seno mengaku kayu dari Dusun Sidotopo mengeluarkan aura panas. Sehingga orang dari luar dusun yang menyimpannya akan mudah tersulut emosinya.

“Karena itu warga di sini tidak berani membawa kayu keluar dusun. Warga dari luar juga sudah tahu. Mereka tidak berani mengambil kayu dari sini,” beber Seno. (rgl/fer)

Editor : Damianus Bram
#pertapaan #Aura Kayu #Desa Cabeankunti #cepogo #Dusun Sidotopo