RADARSOLO.COM- Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Boyolali harus menjadi perhatian.
Apalagi curah hujan mulai meninggi dan muncul lebih banyak genangan di permukiman.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Boyolali Teguh Tri Kuncoro mengatakan, selama periode Januari-awal Maret, tercatat 126 kasus.
Mayoritas DBD terjadi pada Januari dengan 74 kasus. Kemudian melandai pada Februari menjadi 49 kasus DBD.
“Pasien (DBD) yang meninggal dunia sebanyak tiga orang. Januari meninggal dua orang, Februari satu orang,” jelas Teguh, Selasa (5/3/2024).
Jumlah pasien DBD yang meninggal dunia tahun ini turun dibandingkan dua tahun sebelumnya dalam periode yang sama.
Pada Januari-Maret 2022, ada lima kasus pasien DBD yang meninggal dunia.
Lalu pada 2023 di periode yang sama menjadi empat kasus kematian pasien DBD.
Sedangkan pada Januar-Maret 2024, tercatat tiga kasus kematian pasien DBD.
Pasien DBD yang meninggal dunia berasal dari Kecamatan Teras, Wonosegoro dan Wonosamodro.
Secara umum, sebaran kasus DBD di Kabupaten Boyolali hampir merata di 22 kecamatan.
“Terbanyak di Kecamatan Karanggede dengan 17 kasus,” kata Teguh.
Berikutnya di Kecamatan Cepogo sebanyak 13 kasus DBD. Di Kecamatan Sambi dan Kemusu ada 11 kasus DBD.
Teguh menyebut, tingginya kasus DBD perlu diwaspadai bersama.
Dia meminta masyarakat gencar melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan cara menguras, menutup, mengubur, barang-barang yang berpotensi menimbulkan genangan.
“Kami imbau, masyarakat yang mengalami gejala seperti DBD untuk bisa segera berobat. Tetap tenang dan waspada. Lakukan PSN. Kalau ada yang sakit, langsung berobat ke fasilitas kesehatan terdekat," pesan Teguh. (rgl/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono