RADARSOLO.COM - Tradisi padusan kembali digelar Pemkab Boyolali jelang bulan puasa Ramadhan.
Padusan dilaksanakan dengan adat istiadat siraman di Umbul Ngabeyan, kompleks Umbul Tirtomarto, Pengging, Kecamatan Banyudono, Boyolali, Sabtu (9/3).
Tradisi padusan diawali dengan arak-arakan kereta kuda yang berjalan dari Kecamatan Banyudono menuju Umbul Ngabeyan.
Begitu tiba di Umbul Ngabeyan, peserta kirab disambut dengan Tari Gambyong.
Tampak dalam rombongan peserta kirab budaya, di antaranya Bupati Boyolali M Said Hidayat dan istri Desi Hidayat.
Serta kepala OPD terkait dan duta seni.
Mereka mengenakan beskap jangkep dan kebaya.
Di Umbul Ngabeyan, dilaksnakan tradisi padusan siraman oleh Mas dan Mbak Boyolali yang mengenakan kemben.
Bupati dan istri menyiramkan air sebagai simbolis siraman.
Baca Juga: Bagaimana Hukum Mandi Keramas atau Padusan sebelum Puasa Ramadhan, Wajib atau Tidak?
Setelah itu, Mas dan Mbak Boyolali berjalan menuju kolam pemandian.
Diikuti para penari Bedhaya, seperti dayang putra putri raja.
Mereka menyelam sebentar untuk membasahi kepala.
Kemudian mereka bermain air dan merepresentasikan keceriaan.
Bupati Boyolali M Said Hidayat mengatakan, padusan menjadi tradisi yang selalu dijalankan menjelang puasa Ramadhan.
Padusan ini menjadi simbol pembersihan diri.
Sekaligus sebagai persiapan untuk menjalankan puasa selama sebulan penuh.
"Kegiatan ini juga menjadi bagian untuk nguri-uri tradisi di masyarakat," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Disporapar Boyolali Budi Prasetyaningsih menambahkan, selain di kompleks Umbul Tirtomarto, Pengging, tradisi padusan juga digelar di Umbul Tlatar Desa Kebonbimo, Boyolali Kota.
"Kami targetkan sebanyak 10.000 pengunjung dalam padusan ini," tambahnya.
Baca Juga: Awas! Jerat Fintech Lending Mengintai Mahasiswa: Mudah Ajukan Pinjaman, tapi Beban Bunga Tinggi
Pegiat sejarah Boyolali Surojo, mengungkapkan, tradisi padusan sudah ada sejak zaman Hindu.
Padusan berasal dari kata adus yang artinya mandi.
Prosesi padusan pada masa Hindu selalu dilangsungkan pada umbul atau pemandian.
Saat itu, kaum kesatria yang hendak melakukan ritual khusus akan membersihkan badan atau mandi terlebih dahulu.
Pembersihan diri ini akan dilakukan di sumber air yang ada.
Diharapkan, dengan mandi atau adus, maka baik badan atau raganya menjadi bersih.
"Sehingga dengan diawali mandi tersebut maka ritual yang akan dijalani terkait peningkatan kesaktianya atau ritual batin bisa berjalan lancar," katanya.
Pasca kejayaan Hindu mulai surut, dan berganti saat Islam masuk.
Ternyata tradisi padusan tetap dilakukan masyarakat, meski telah berganti menjadi Kerajaan Islam.
Tradisi padusan tetap dimaknai sebagai simbol penyucian badan dan batin.
Namun, disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Hingga saat ini padusan jadi tradisi mandi besar menjelang Ramadhan.
"Dan, karena dulu mandinya langsung di sumber air atau umbul, maka sekarang pun masyarakat tetap memilih padusan di sumber air atau pemandian," pungkasnya. (rgl/ria)
Editor : Syahaamah Fikria