Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Dampak Upwelling Terparah di Waduk Cengklik, Pembudidaya Ikan Nila Butuh Arahan Pemkab Boyolali

Ragil Listiyo • Kamis, 14 Maret 2024 | 01:57 WIB
Pengecekan kualitas air di keramba jaring apung Waduk Cengklik, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Rabu (13/2/2024).
Pengecekan kualitas air di keramba jaring apung Waduk Cengklik, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Rabu (13/2/2024).

RADARSOLO.COM- Fenomena upwelling di Waduk Cengklik, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali menyisakan trauma mendalam bagi pembudidaya ikan nila.

Kejadian upwelling di Waduk Cengklik kali ini menjadi yang terparah.

Menyebabkan nyaris semua ikan nila siap panen mati. Kerugian materi mencapai hampir Rp 1 miliar.

Disnakan Boyolali telah mengecek kualitas air Waduk Cengklik.

Hasilnya, tingkat oksigen di perairan mulai membaik. Namun, tingkat pH air masih asam.

Pengecekan kualitas air dilakukan di keramba jaring apung (KJA) milik petani Kelompok Tirto Panguripan.

Analis Akuakultur Ahli Muda Disnakan Boyolali Deviet Nurmaryani menjelaskan, pihaknya melakukan pemantauan beberapa parameter.

Yaitu dissolved oxygen (DO) atau tingkat oksigen dalam perairan.

“Rata-rata (tingkat oksigen) sudah mulai membaik. Sekitar 5 miligram per liter," jelas Deviet, Rabu (13/3).

Sedangkan pH atau derajat keasaman air sekitar 4,6. Menurut Deviet, pH air Waduk Cengklik masih sedikit asam.

Tapi sudah mulai membaik dibandingkan saat fenomena upwelling. Sedangkan suhu air 29 derajat celcius.

"Kualitas air sekarang mulai membaik. Dilihat dari ikan-ikannya tadi banyak yang sudah sehat,” terangnya.

Diungkapkan Deviet, kualitas air yang layak di Waduk Cengklik yakni DO lebih dari 5 miligram per liter.

Sedangkan pH berkisar 6-7 tingkat keasaman. Sedangkan suhu air relatif sekira 27-29 derajat celcius.

Ketua Kelompok Tani KJA Tirto Panguripan Desa Sobokerto, Kecamatan Ngemplak Supriyanto menerangkan, dampak upwelling hanya ikan-ikan yang selamat.

"Ini (dampak upwelling) yang paling parah. Biasanya blok-blok aja," ucap dia.

Mengantisipasi kejadian serupa, pembudidaya ikan di Waduk Cengklik menunggu arahan Pemkab Boyolali.

Sebab, mereka belum menemukan solusi yang tepat. Saran untuk menggeser keramba, sulit dilakukan. Lantaran petani fokus menyelamatkan ikan masing-masing.

"Pengalaman dan pemahaman kami terbatas. Selama ini hanya mengurangi pakan. Pernah tidak diberi makan,” terang Supriyanto.

Pembudidaya ikan nilai di Waduk Cengklik berinisiatif menaikkan keramba jaring apung agar ikan tidak berenang terlalu dalam. (rgl/wa)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#suhu air #Waduk Cengklik #Upwelling #Pemkab Boyolali