Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pondok Pesantren Putri Darussholihat Andong Boyolali Terapkan Pola Kehidupan Zaman Rasulullah, Seperti Ini Kondisinya

Adi Pras • Kamis, 14 Maret 2024 | 02:07 WIB
Santriwati Ponpes Darussholihat Andong mengaji menggunakan lampu sentir saat peringatan Isra’ Mikraj. (dok.pribadi)
Santriwati Ponpes Darussholihat Andong mengaji menggunakan lampu sentir saat peringatan Isra’ Mikraj. (dok.pribadi)

RADARSOLO.COM – Pondok pesantren (ponpes) Darussholihat merupakan lembaga pendidikan kegamaan yang menganut mazhab Aqidah Asy'ariyah dan Maturidiyyah, serta menganut mazhab Fiqih Syafi'iyyah. Ponpes ini juga dikenal ponpes tradisional yang menerapkan kehidupan zaman Rasulullah SAW.

Metode pembelajaran di Ponpes Darussholihat Andong masih bersifat klasik (tradisional) sesuai ulama kuno (salaf). Misalnya adanya sorogan Alquran, pengajian blandongan Kitab Kuning yang dimaknai dengan arab pegon (arab berbahasa jawa). Ada pula pengajian wetonan dan selapanan.

Ponpes ini resmi didirikan pada 1975 di Karangjoho, Desa Mojo, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali di atas tanah perwakafan oleh K.H. Muslim Zuhdi bin K.H. Dilanjutkan dengan kepemimpinan sang putra yakni K.H Towaf Muslim dan sepeninggalnya beliau dilanjutkan dengan sang istri Nyai Hj Siti Sutijah.

Ponpes Darussholihat merupakan ponpes yang sangat terkenal di wilayah Andong Boyolali. Karena masih menjaga dan tetap istiqomah menganut sistem tradisional. Namun demikian, hingga kini relatif masih banyak diminati meski kemajuan teknologi saat ini cukup pesat.

Saat ini total ada 260 an santri putri yang mengabdi di ponpes Darussholihat. Bahkan ada beberapa santri yang berasal dari luar Jawa seperti Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, Sulawesi dan sisanya dalam lingkup wilayah Jawa.

”Biasanya santri yang mengabdi di sini mendapat informasi getok tular. Alhamdulillah sampai saat ini santri yang benar-benar siap lahir batin saja yang bisa mengabdi di sini,” jelas Ustadzah Khumaida, pengawas santriwati Darussholihat.

Keistimewaan pola kehidupan di ponpes ini yang tidak pernah hilang yakni budaya keberkahan dan kesederhanaan. Misalnya para santri diwajibkan tidur tanpa alas kasur atau busa yang empuk. Hanya santri yang memiliki sakit bawaan yang diizinkan memakai kasur. Selain itu, saat memasak masih menggunakan kayu bakar.

”Pada awal berdirinya sampai saat ini kelestarian memasak menggunakan kayu bakar masih terjaga, sehingga dari hal ini pihak ponpes dapat membantu perekonomian masyarakat sekitarnya dalam membeli kayu bakar,” jelasnya.

Kesederhanaan ini diterapkan atas dasar merasa cukup dan merasa puas dengan setiap sesuatu yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT.

”Ponpes Darussholihat mencetak lulusan yang mengamalkan sifat qanaah, sehingga dapat terbebas dari beberapa sifat buruk seperti ujub (bangga diri), dan sikap akhlak yang buruk,” tandasnya. (mg12/adi)

Editor : Adi Pras
#Salaf #ponpes #kecamatan andong #Pondok Pesantren