RADARSOLO.COM – Pondok pesantren (ponpes) tertua di Kabupaten Boyolali, Zumrotut Tholibin berdiri sejak 1906 silam. Berlokasi di Dusun Karangjoho, Desa Mojo, Kecamatan Andong, ponpes ini memiliki tradisi rutin tiap Ramadhan. Ngaji Kilatan dan tadarusan Alquran menjadi kebiasaan yang terus terpelihara hingga kini, terutama saat momentum bulan suci Ramadhan.
Asatid di ponpes sekaligus pengajar di Sekolah Formal MA Al-Azhar, M. Husna Rosyadi mengatakan, ada tradisi salafi yang masih dipegang sampai saat ini. Para santri masih menjalankan Ngaji Kilat setiap harinya. Ngaji kilat ini merupakan ngaji kitab yang dibagi dalam tiga waktu.
Pertama, setelah Subuh, setelah Ashar dan setelah Isya. Terbagi menjadi delapan kelas Ngaji Kilat yang disesuaikan dengan jenjang mondoknya. Kitab yang dibedah di antaranya Kitabah, Kitabul Jami', Khulashoh Nurul Yaqin, Muntakhobat, Tahliyah Wa Targhib, Mabadi 3 dan 4, serta Taisir Kolaq.
”Selain itu, para santri juga tadarus mandiri tiap waktu luang. Biasanya selesai salat dan selesai sekolah formal. Paling tidak mereka khatam satu kali selama Ramadhan. Tapi ini, baru lima hari puasa sudah ada yang dapat 28 juz Alquran. Jadi ada yang bisa khatam dua sampai tiga kali,” jelasnya.
Lalu, bagaimana sejarah panjang ponpes ini? Pendiri ponpes, KH. Zuhdi mengabdikan diri dari 1906 -1946. Sosok Kiai Zuhdi dan Nyai Siti 'Aisyiyah memang tak bisa lepas dari keberlangsungan ponpes ini.
Saat bujang, Kiai asli Toroh, Grobogan ini selesai belajar ilmu agama di Ponpes Wirosari, Grobogan. Hijrahlah dia menuju Desa Kacangan, Andong. Sesuai perintah sang guru, dia diminta mengajarkan agama Islam pada masyarakat yang mayoritas masih abangan.
Sang kiai berjalan menuju selatan. Hingga sampailah ke pondok Mbah Saniman, warga Kacangan, Andong. Ada langgar kecil dari kayu yang dijadikan pusat mengaji. Perkembangan Islam saat itu disambut positif.
Tak lama, pamannya, Kiai Mbah Thoyib, naib pertama yang tinggal di Karangjoho, Desa Mojo, memintanya tinggal di sana. Kemudian, petak tanah sekitar 3,5 ribu meter persegi milik tokoh setempat, Mbah Muhsin dihibahkan ke Kiai Zuhdi muda.
”Tanah tersebut lantas dibuatkan Masjid Rodhotut Sholihin. Keseluruhan bangunan masih kayu, wong itu jauh sebelum merdeka, sekira 1906. Baru Mbah Kiai mendirikan bedeng-bedeng bambu (kamar bambu,red). Buat para santri mengaji,” tutur buyut Kiai Zuhdi, sekaligus Wakil Ketua Yayasan Anshar Budiyono.
Perkembangan ponpes ini cukup pesat. Banyak santri dari luar daerah berdatangan. Bahkan hingga luar Jawa. Ponpes yang dikenal dengan nama Pesantren Kacangan di Mojo ini fokus pada pembelajaran keagaaman.
Mulai dari ilmu Sorof, Fiqih, Tafsir, ilmu Asror dan laduni serta lainnya. Beberapa santrinya yang terkenal, seperti Mbah Siroj yang dimakamkan di Pracimaloyo, Makam Haji, Mbah Mansur hingga Mbah Khasan Mukmin.
Ponpes ini juga terlibat dalam mendukung kemerdekaan Indonesia dan ikut memberantas gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) sekira 1960-an. (rgl/adi)
Editor : Adi Pras