RADARSOLO.COM – Sebagai pondok pesantren tertua di Kabupaten Boyolali yang berdiri pada 1906, Zumrotut Tholibin menjadi saksi dari banyaknya peristiwa sejarah di Indonesia. Termasuk dalam memperjuangkan kemerdekaan RI dan terlibat intrik Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1960-an.
Ponpes Zumrotut Tholibin berada di Dusun Karangjoho, Desa Mojo, Kecamatan Andong. Didirikan oleh KH. Zuhdi mulai 1906. Jelang kemerdekaan RI, ponpes ini menjadi markas tentara-tentara Islam Indonesia. Semangat resolusi jihad yang digaungkan K.H. Hasyim Asy'ari menular hingga Boyolali saat itu.
”Pada zaman Belanda, di sini dianggap markas tentara Hizbullah. Tentara Islam yang waktu itu, komandonya resolusi jihad, sama dengan NU waktu itu. Jadi zaman Belanda ini pernah dibom. Ketika sudah merdeka, di zaman PKI juga dibakar. Saat saya masih kecil, saya masih liat bekas-bekas pembakaran. Puing-puingnya yang terbakar terlihat,” kata Wakil Ketua Yayasan Zumrotut Tholibin Anshar Budiyono, kemarin (19/3).
Buyut Kiai Zuhdi ini menyebut, banyak santri-santri senior yang hilang saat masa PKI. Salah satunya, anak dari Mbah Muhsin, tokoh setempat. Perjuangan Kiai Zuhdi ini tak lepas dari peran istrinya, Nyai Siti 'Aisyah. Dengan sabar, nyai mendampingi Kiai Zuhdi mengurus ponpes.
Termasuk menyediakan makan dan minum bagi santri. Kala itu, mondok di ponpes tak dipungut biaya. Belum lagi, pembangunan ponpes dilakukan mandiri. Sikap karismatik dan penyayang membuat ponpes selalu ramai.
Nyai Siti ikut serta mengajari ngaji. Utamanya santri putri. Mendampingi sang suami dari nol, tanpa pamrih. Hanya berbekal sabar. Lalu pada 1946, Kyai Zuhdi wafat diusia sekitar 70 tahun. Dia memiliki tujuh anak, Bhulkin, Thowaf Muslim dan lainnya.
Kepengurusan ponpes diserahkan pada anak-anak serta menantunya dari tiga istri yang ditinggalkan. Generasi kedua dipegang oleh Thowaf Muslim dan Ali Muhammad, anak: Djumairi, santri sekaligus menantunya; Zakarsi, santrinya; Ali Hasan serta Muslim Khoiri, cucu Kyai Zuhdi.
”Masa Mbah Thowaf, dikembangkan lembaga ini. Dari ponpes keagaamaan, menjadi yayasan ponpes dengan dilengkapi pendidikan formal pada 1975. Lalu didirikan MA Al Azhar dilanjutkan dengan MTs Maarif. Lalu ada Diniyahnya, dari 'Ula, Wustho dan Aliyah. Rentangnya lumayan lama, karena waktu itu kegiatannya pesantren murni. Dari situ, beralih nama dari Pesantren Kacangan menjadi Ponpes Zurotut Tholibin, diartikan perkumpulan pelajar,” terangnya.
Kepengurusan diteruskan generasi ketiga atau cucu Kiai Zuhdi. Yakni, Kiai Muslim Khoiri, Suparman Sayuti. Lalu dilanjutkan ke generasi keempat dari cucu dan buyutnya, yakni Khorul Hadi dan dirinya, Anshar Budiyono serta pembina Jamaluddin. Perkembangan pesantren diteruskan. Hingga kini, Ponpes Zumrotut Tholibin memiliki 500 santri. Dari usia MTs dan MA. Bahkan dari lahan 3,5 ribu meter persegi, kini menjadi dua hektare.
”Cucu- buyut beliau juga mendirikan pesantren di sekitar sini. Seperti Ponpes Darussholihat, Ushubul Ilmi, Darussholihin, Cengkir Kuning dan Madrosatul Quran, juga Zumrotut Tholibin. Mereka bersekolah di MTs Maarif dan MA Al Azhar. Bahkan jumlah siswa mencapai 1.600 santri,” terangnya. (rgl/adi)
Editor : Adi Pras