RADARSOLO.COM- Kasus leptospirosis tak bisa dianggap sepele. Taruhannya nyawa.
Pemkab Boyolali mewanti-wanti setiap fasilitas kesehatan memantau lebih lanjut pasien dengan gejala demam.
Itu mengingat di Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, pria parobaya meninggal dunia akibat penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira. Bakteri ini dapat menyebar melalui urine atau darah hewan.
"Benar, ada pasien leptospirosis yang meninggal dunia. Laki-laki usia 57 tahun. Beralamat di Nogosari," ujar Kepala Dinkes Boyolali Puji Astuti, Kamis (21/3/2024).
Menurut Puji, pasien tersebut sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit (RSUD) Ibu Fatmawati Soekarno Kota Solo.
Kemudian dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (20/3/2024) malam.
"Kematian baru semalam. Penyelidikan epidiemologi (PE) dilakukan besok (22/3/2024) karena suasana berkabung. Kronologinya masih nunggu hasil PE," terang kadinkes Boyolali.
Merujuk data Dinkes Boyolali, hingga pertengahan Maret 2024, tercatat dua kasus leptospirosis dengan satu pasien meninggal dunia.
Sedangkan pada 2023, kasus leptospirosis cukup tinggi. Yakni tercatat 15 kasus dengan empat kematian.
Pada 2022, ada 17 kasus leptospirosis dengan tiga pasien meninggal dunia.
Puji menjelaskan, leptospirosis merupakan penyakit zoonosis atau penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan ke manusia.
Penyakit ini mudah menginfeksi melalui luka.
Infeksi dari bakteri leptospira ini bisa memicu kerusakan ginjal dan hati hingga menyebabkan kematian.
Gejala leptospirosis antara lain panas tinggi, nyeri kepala, nyeri perut, nyeri otot dan lainnya.
Namun, ada gejala khusus yang hanya ditemui pada penyakit ini, yakni nyeri otot bagian betis.
Selain itu, terdapat 125 varian bakteri leptospira. Pasien yang terinfeksi varian mematikan akan bergejala seperti penyakit hepatitis B hingga gagal ginjal.
Yaitu mata dan tubuh menguning, mengalami gagal ginjal. Infeksi ini juga memicu komplikasi yang bisa menyebabkan kematian.
“Kami sudah wanti-wanti ke puskesmas dan faskes untuk memantau lebih detail pada kasus demam. Entah itu demam biasa, demam berdarah dengue (DBD), tifus dan lainnya," beber Puji. (rgl/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono