RADARSOLO.COM - Keberadaan situs Timboa di Desa Ngadirojo, Kecamatan Gladagsari, Boyolali sempat terancam saat kebakaran Gunung Merbabu pada akhir 2023 lalu. Dorongan untuk restorasi muncul dari para pegiat budaya.
Pegiat budaya sekaligus Ketua Boyolali Heritage Society (BHS) Kusworo Rahardian masih ingat betul pendakian menuju Puncak Syarif Gunung Merbabu.
Dia bersama tim Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) dan masyarakat Timboa bertolak dari basecamp Timboa (yang sekarang dilarang,Red).
Mereka lantas naik menuju Puncak Syarif. Perjalanan yang ditempuh melingkar ke barat.
Rute pendakian melewati area Bukit Kethu sampai Kawah Mati, lalu ke Puncak Syarif. Baru turun kembali ke jalur Timboa.
Tim BHS melakukan pendataan, jenis temuan hingga koordinat temuan benda yang diduga cagar budaya dalam pendakian itu.
Ada 11 temuan jejak kekunoan yang kami data.
Pertama, batu menyerupai peripih ditemukan di atas pertigaan Sadel Puncak Syaif dan Puncak Kenteng Songo.
"Batu yang memiliki relung menyerupai kelopak bunga, berupa relung bulat di tengah dan dikelilingi delapan relung bebentuk bulat telur. Sehingga berbentuk seperti kelopak bunga,” jelasnya.
Benda kekunoan itu ditemukan di ketinggian 3.101 meter di atas permukaan laut (MDPL).
Kedua, BHS menemukan pecahan terakota Kereweng di Puncak Syarif yang jumlahnya banyak.
Ketiga, ada Goa Pringgondani.
Goa alam yang terbentuk dari reruntuhan batu alam ini ditemukan di jalur turun setelah Puncak Syarif.
Tepatnya arah timur laut diketinggian 3082 MDPL.
Keempat berupa batu tulis berbentuk lempeng.
Dari hasil identifikasi, batu itu bertuliskan nama dan tahun orang Belanda.
Hanya saja, batu ini tidak didata karena waktu ekspedisi fokus pada struktur kekunoan dan prasasti angka tahun di bawahnya.
Menurut Kusworo, secara keseluruhan objek tinggalan arkeologi di Lereng Timur Laut Merbabu ini sepintas menggambarkan bekas hunian komunitas tertentu di periode itu.
”Setalah diamati di Peta Topografi terbitan Belanda tahun 1974, jalur timur laut ini adalah jalur kuno yang dipetakan tahun itu dan masuk melalui Desa Diwak Lama yang sudah ditinggalkan warganya,” jelasnya.
Pasca kebakaran, lanjut dia, kondisi struktur punden berundak tempat lokasi batu prasasti sangat memprihatinkan dan rawan longsor.
Posisi struktur punden berundak di Pos V jalur tidak resmi via Timboa, beberapa bulan setelah kebakaran, sudah mulai ditumbuhi rumput hijau.
Lalu, struktur reruntuhan bekas bangunan menyerupai altar atau candi bawah sudah runtuh sepenuhnya.
Dia menilai perlu segera ada penanganan terhadap situs ini.
Karena potensi kerusakan oleh faktor alam sangat tinggi.
BTNGMb telah mengambil tindakan melarang pendakian di jalur tersebut.
Namun, larangan itu dinilai belum maksimal.
Dia mendesak agar pemkab juga ikut andil dalam pelestarian situs ini.
BHS mendorong semua pihak, baik unsur pemerintah, masyarakat, BTNGMb, BPK Jawa Tengah segera melakukan penanganan terhadap situs ini.
"Kawasan Merbabu memiliki khasanah jejak kebudayaan yang luar biasa karena banyak naskah kuno seperti Kisah Perjalanan Pujangga Manik, Kidung Tantu Panggelaran menyebutkan Gunung Merbabu sebagai Gunung Damalung," ujar Kusworo.
"Untuk itu, perlu segera diadakan kajian yang menyeluruh dan upaya penyelamatan yang lebih intensif,” tandasnya. (rgl/adi/ria)
Diduga Bekas Desa Diwak Lama
1. Struktur tangga di ketinggian 2.908 MDPL berupa tatanan batu membentuk teras berundak di komplek POS V Jalur Timboa.
2. Struktur tangga pembuka berbentuk batu kotak berdiri dengan ketinggian 80 sentimeter dari ranah.
3. Balok batu berdiri mirip gapura kecil di tiap awal teras.
4. Prasasti batu berangka tahun 1448 saka atau 1526 masehi berdasarkan hasil pembacaan filolog ahli baca tulis aksara Jawa Kuno, Rendra Agusta di ketinggian 2.910 MDPL.
5. Batu menyerupai gentong dan pecahan kendi terakota
6. Bekas bangunan menyerupai altar seluas 2x2 meter dengan kondisi sepenuhnya runtuh. Masyarakat menyebut Candi Bawah
7. Pecahan terakota bermotif mirip candi dengan gaya khas Majapahitan di ketinggian 2842 MDPL.
8. Struktur anak tangga berjumlah 74 dekat pos 4 di ketinggian 2654 MDPL.
9. Struktur teras di Pos 4 Jalur Timboa di ketinggian 2.668 MDPL menyerupai punden berundak.
Sumber: Hasil Wawancara
Editor : Syahaamah Fikria