RADARSOLO.COM - Bagi masyarakat Dusun Timboa, Desa Ngadirojo, Kecamatan Gladagsari, Boyolali, Situs Timboa di kawasan Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) menjadi warisan nenek moyang yang harus dijaga.
Upaya-upaya masyarakat setempat untuk melestarikan ditempuh.
Meski jalur pendakian Timboa bukan jalur resmi, namun warga tetap menjaga situs ini agar tidak hilang.
Sebelum ada pelarangan oleh BTNGMb, warga biasa meminta pendaki untuk mengecek kondisi jalur.
Namun, setelah ada pelarangan pendakian jalur Timboa pada 2022 silam, maka warga mandiri naik ke atas.
”Karena ditutup BTNGMb, kami jadi yang harus naik turun naik turun untuk menjaganya. Karena kalau situs sampai hilang, kami ndak ada cerita lagi," ujar Jarwanto, warga Dusun Timboa, Desa Ngadirojo yang rutin merawat situs.
Selain itu, karena jalur ditutup, kata dia, warga juga tidak bisa mengontrol seseorang yang naik secara ilegal.
"Kami takutkan karena jalur ditutup ada seseorang yang diam-diam, naik lalu ambil sesuatu di atas. Kami juga yang akan kena imbasnya,” ucap dia.
Belum lagi, pasca kebakaran Gunung Merbabu pada 2023, hutan menjadi gundul dan rerumputan hangus. Sehingga menyebabkan banjir.
Banjir itu melanda pos 5 Timboa, lokasi situs batu berundak.
Beruntung, situs masih aman dan terkondisikan.
”Kami terus melakukan perawatan meski ndak rutin setiap bulan. Karena kami juga mempunyai kesibukan masing-masing," kata dia.
"Selain itu, karena medan yang lumayan terjal setelah kebakaran kita naiknya habis Subuh sampai situs sekitaran 5-6 jam dari kampung. Padahal sebelumnya hanya 4 jam saja,” imbuh Jarwanto.
Dia sendiri menyayangkan, kenapa Situs Timboa belum masuk sebagai cagar budaya.
Padahal warisan budaya ini sangat potensial.
Mau tak mau, warga berkomitmen untuk menjaga secara mandiri.
Tiap naik di akhir pekan, mereka akan membawa serta anak-anaknya yang berusia remaja.
”Biar tempat yang kami rawat, kelak kalau kami sudah tua ada penerus yang merawat dan menjaganya. Kalau naik kami bisa dua hari, kebetulan kami juga ada (menemukan) mata air baru namanya Tirta Wisnu Damalung letaknya bawah pos 3 Timboa pada November lalu. Ini, baru nyari bantuan pipa untuk dialirkan ke bawah,” tambahnya.
Selain mengajarkan untuk merawat situs dan mencari sumber air, para orang tua di Dusun Timboa juga mengajarkan pada anak mereka untuk merawat lingkungan.
Tiap naik dua hari itu, warga akan membawa bibit Tangsek Wilodo, Puspa dan Ficus hasil semai masyarakat sendiri.
”Selama tiga bulan ini kami rutin tiap weekend naik terus sampai bulan puasa ini masih berlanjut. Ini bentuk kepedulian kami terhadap warisan nenek moyang,” tandasnya. (rgl/adi/ria)
Editor : Syahaamah Fikria