RADARSOLO.COM- Harga kopi lokal khas Merbabu naik kelas. Capai Rp 62 ribu per kilogram (kg)-nya.
Nominal tersebut naik separonya dibandingkan harga biasanya.
Tak ayal, petani kopi Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Boyolali ikut senang bukan kepalang.
Mengingat awalnya harga tertinggi kopi lokal hanya Rp 25 ribu per kg.
Tersedia beberapa varian kopi lokal Merbabu di Desa Banyuanyar.
Mulai dari robusta Merbabu, Arabica, dan kopi nangka yang semakin langka.
Bersyukur, saking suburnya tanah Merbabu, satu pohon kopi nangka bisa menghasilkan 7.500 biji.
Upaya mengerek kopi lokal telah dirintis sejak 2014 dengan dorongan Pemdes Banyuanyar.
"Habis panen kemarin (2023,Red) Rp 39 ribu - Rp 40 ribu (per kg). Kemungkinan ini stok kopi mau habis,” jelas Suwarno, petani kopi Kelompok Tani (Poktan) Sumber Widodo 2, Senin (1/7/2024).
“Panen raya ini, kemungkinan (harga kopi lokal) turun lagi. Tapi sudah cucuk (sesuai) dengan modalnya," lanjut dia.
Menurut Suwarno, petani tinggal mencecap hasilnya setelah menanam kopi pada 10 tahun lalu.
"Dua tahun lalu, harga tertingginya Rp 25 ribu per kilogram. Kami anggap sudah bagus harga pasaran segitu," ujar dia.
Baca Juga: Hadapi Australia, Pelatih Timnas Indonesia U-16 Berharap Skuad Garuda Muda Bermain Tanpa Beban
Saat ini, poktan kopi di Desa Banyuanyar memiliki lahan perkebunan kopi seluas 7 hektare.
Mereka bisa memanen hingga berton-ton biji kopi. Sedangkan perawatannya tidak jauh berbeda.
Yakni pemupukan dengan pupuk kandang dan pemotongan ranting.
Nyoto, petani kopi lainnya mengaku menanam kopi robusta di lahan seluas 1 hektare.
Dia termasuk petani senior yang telah merintis budi daya kopi sejak 30 tahun silam.
"Tahun ini, kemungkinan bisa panen sampai 2 ton. Saya punya 1.200 batang pohon kopi,” jelasnya. (rgl/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono