RADARSOLO.COM-Pemkab Boyolali memelototi retribusi pasar tradisional.
Sebab, pendapatan dari retribusi pasar tradisional jarang mencapai target. Bahkan, tahun lalu bocor sebesar 5 persen.
Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Boyolali bikin terobosan.
Yakni, dengan memaksimalkan Sistem Informasi Dompet Virtual (SiDevi) berupa pembayaran cashless.
Kabid Pendapatan Pasar Disperindag Boyolali Nur Winaning Rahayu menjelaskan, terdapat 42 pasar tradisional yang retribusinya menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD).
Namun, pada 2023, baru 95 persen target yang tercapai dari sasaran Rp 7,5 miliar. Artinya, masih ada retribusi yang bocor.
Dinas terkait melakukan survei lapangan dan menemukan celah yang membuat PAD dari retribusi pasar tradisional tak terserap maksimal.
Penyebabnya antara lain, petugas penarik retribusi lupa menyetor ke kas daerah, hingga pedagang yang tidak mau membayar retribusi.
"Retribusi pasar berperan penting dalam PAD. Maka perlu penanganan serius. Apalagi tahun ini, target kami naik Rp 8,8 miliar," jelas Nur, Selasa (9/7/2024).
Kini, Pemkab Boyolali memaksimalkan SiDevi. Sistem pembayaran retribusi pasar dengan sistem cashless.
"Awalnya baru menyasar 9 pasar. Sekarang diperluas. Kami kan punya 42 pasar. Pembayaran retribusi pasar juga lebih mudah. Bisa menggunakan ID billing dan uang elektronik di kartu pedagang," beber Nur.
Dengan SiDevi, pembayaran retribusi pasar langsung masuk kas daerah, sehingga meminimalkan kecurangan.
"Pengelolaan retribusi pasar lebih akuntabel dan transparan," ujar Nur. (rgl/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono