Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Remaja yang Meninggal Dunia di Ngemplak Boyolali Sempat Mengaku Dipukuli Anggota Perguruan Silat

Ragil Listiyo • Rabu, 31 Juli 2024 | 21:37 WIB
Garis polisi dipasang di rumah Waginah di Dusun Grasak RT 03 RW 05, Desa Kismoyo, Ngemplak, Boyolali.
Garis polisi dipasang di rumah Waginah di Dusun Grasak RT 03 RW 05, Desa Kismoyo, Ngemplak, Boyolali.

RADARSOLO.COM - Sorot kesedihan tampak dari mata Darmudi, ayah AHD,16, yang meninggal dunia di rumah sang nenek, Waginah, di Dusun Grasak RT 03 RW 05, Desa Kismoyo, Ngemplak, Boyolali pada Selasa (30/7) sore.

Menurut Darmudi, ada kejanggalan dari kematian anaknya.

"Selasa sore itu, dibangunkan neneknya untuk makan. Karena dibangunkan kok nggak bisa-bisa. Pas dicek, sudah tidak ada (meninggal dunia,Red), posisi terlentang," ujarnya, Rabu (31/7/2024).

"Saya dikabari langsung lihat anak saya. Sudah tidak tega saya. Saya trauma lihat anak saya begitu (meninggal dunia dengan tidak wajar )," ungkapnya ditemui di rumah duka, Desa Kismoyo.

Kematian AHD yang dinilai janggal bermula dari unggahan AHD di story WhatsApp sekira dua minggu lalu.

Sang anak membuat unggahan soal salah satu perguruan silat.

Pada saat itu, AHD belum bergabung dengan perguran silat bersangkutan.

Hal itu ternyata memantik respons para anggota perguruan silat.

"Mereka tidak terima, terus anak saya dicari ke sini (Desa Kismoyoso,Red) tidak ada. Terus ke tempat saya (Desa Manggung,Red) tidak ada," ujar Darmudi.

"Saya suruh ke sini lagi. Saya tidak tahu kalau mereka mau membawa anak saya. Saya kira itu temannya," jelasnya.

Ditambahkan Darmudi, AHD sempat ditanya sejak kapan ikut perguruan silat itu dan di mana latihannya.

Diduga karena takut, AHD terpaksa berbohong bergabung pada 2023 dan latihan silat di Kecamatan Nogosari.

Baca Juga: Ini Alasan Adhyaksa Farmel FC Home Base di Stadion Sriwedari Solo di Liga 2 Musim ini, Ternyata Eks Jawara Liga 3 Sedang Siapkan Kejutan

Anggota perguruan silat itu lalu mengajak AHD ke perguruan silat ranting Nogosari.

Nah disitulah Darmudi menduga anaknya dikeroyok anggota perguruan silat.

Setelah itu, AHD dipulangkan ke rumah neneknya.

"Anak saya diam setiap ditanya. Saya tanya, loro opo ora (sakit atau tidak)? Cuma diam saja," terang Darmudi.

Saat dipulangkan ke rumah neneknya, AHD membawa surat pernyataan bersedia bergabung ke perguruan silat bersangkutan.

AHD lalu disuruh latihan pencak silat. Tapi pada suatu hari, AHD absen latihan karena ikut bekerja sang ayah mencari cacing sutra di Klaten.

Diterangkan Darmudi, karena tidak ikut latihan, diduga AHD kembali dikeroyok.

Dugaan penganiayaan kali kedua itu, lanjut Darmudi, terjadi pada Sabtu (27/7/2024) malam.

Penganiayaan terjadi di salah satu sekolah di Asem Growong, Desa Sembungan, Kecamatan Nogosari, Boyolali.

Darmudi berusaha mendamaikan anaknya dengan pengurus perguruan silat ranting Nogosari.

Tapi upaya itu sia-sia. AHD tetap saja dianiaya.

Pasca dugaan penganiayaan itu, kondisi AHD sangat pucat.

"Ditanya ibunya, anak saya bilang, dihajar dua kali di bagian ini (menunjuk dada), lalu diam saja," ungkap Darmudi dengan mata berkaca-kaca.

Baca Juga: Petugas SPBU Colomadu Karanganyar Beri Klarifikasi Terkait Detik-Detik Kebakaran Terjadi

"Sebenarnya anak saya ini depresi atau bagaimana, gitu lho. Apa takut gitu lho. Saya juga pesan ke anak, kalau kamu ikut silat, ya nggak apa-apa, sing kuat, sing pinter. Sudah saya serahkan ke ranting Nogosari. Tapi kenapa begitu," bebernya.

Darmudi mencari keadilan penyebab kematian anaknya.

"Apakah dihajar orang, apa depresi, apa gimana. Saya itu (mikirnya,Red) cuma itu. Jalaran (disebabkan dugaan penganiayaan anggota perguruan silat,Red) depresinya," lanjut Darmudi.

Kapolres Boyolali AKBP Muhammad Yoga Buana Dipta mengatakan, terkait dugaan pengeroyokan terhadap AHD masih dalam penyelidikan. (rgl/wa)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#pengeroyokan #Boyolali #ngemplak #remaja #perguruan silat #penganiayaan