Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Dari Waduk hingga Kolam, Industri Perikanan Perumahan di Boyolali Dongkrak Konsumsi Ikan: Ekonomi Warga Melonjak, Gizi Buruk Teratasi

Ragil Listiyo • Sabtu, 21 September 2024 | 05:41 WIB
Mengolah ikan lele di Kampung Lele Dusun Mangkubumen, Desa Tegalrejo, Sawit, Boyolali.
Mengolah ikan lele di Kampung Lele Dusun Mangkubumen, Desa Tegalrejo, Sawit, Boyolali.

RADARSOLO.COM - Ikan jadi salah satu sumber protein hewani yang dinilai ampuh menangani stunting. Meski berada di lereng Gunung Merapi-Merbabu, produksi ikan di Boyolali cukup tinggi.

Produksinya mencapai 33 ribu ton per tahun khusus untuk ikan lele. Tingkat konsumsi ikan juga ikut terdongkrak setelah industri rumahan ikut berkembang.

Ditemui Radarsolo.com di kediamannya, Jumat (20/9), ibu muda asal Kampung Banaran, Kecamatan Boyolali, Ulum, 27, menceritakan tengah berjuang untuk meningkatkan gizi sang anak yang baru berusia 1,5 tahun.

Anaknya mengalami kurang berat badan (BB), dan masuk dalam skrining kategori anak stunting di Puskesmas Boyolali 1.

Sembari menggendong sang anak dengan jarik berwarna merah muda, Ulum mengatakan, perkembangan anaknya terus menurun.

Sang anak pernah mengalami cacar air akhir tahun lalu.

Hal itu membuat berat badan sang anak turun menjadi 8,5 kilogram di usia 8 bulan.

Sejak itu, sang anak kerap sakit dan berat badannya tidak bertambah.

"Saat ini berat badannya sudah naik 2 ons, lumayan. Jadi memang kurang gizi saja," kata Ulum.

"Ini menurut saya faktor ekonomi, kalau sudah pulih Insya Allah akan membaik. Saya juga rutin pemeriksaan ke Posyandu dan mulai memberikan makanan bergizi," imbuh dia.

Selain sayur mayur, Ulum juga memenuhi kebutuhan protein. Salah satunya dari olahan ikan.

Industri Olahan Ikan di Boyolali

Boyolali memiliki beberapa sumber perikanan. Baik dari waduk maupun kolam buatan.

Salah satunya abon lele yang cukup terjangkau menjadi lauk dan disukai anak-anak.

Keberadaan industri rumahan olahan ikan ini bisa ditemui di Dusun Sumberagung, Desa Sarimulyo, Kecamatan Kemusu.

Maryani, bendahara rumah produksi ikan kelompok Jajanan Iwak (Jawak) memanfaatkan hasil tangkapan ikan para suami.

Awalnya, ikan petek alias peperek dan lunjar hanya dijual seharga Rp 2 ribu per kilogram.

Para istri nelayan pun berusaha memutar otak untuk meningkatkan harga jual, sekaligus menarik minat konsumsi ikan.

Hingga kemudian pada tahun 2022, ibu-ibu rumah tangga itu mencetuskan ide untuk mengolah ikan petek menjadi jajanan.

Jajanan dari olahan ini bisa menjadi lauk ringan yang cocok untuk pendamping nasi. Bahkan tahan hingga tiga bulan.

"Kami istri-istri nelayan punya inisiatif untuk mengolah ikan. Sekarang menjadi (jajanan) petek krispi dan bapareng," ujar Maryani.

Jajanan petek krispi itu dipasarkan dengan harga Rp 75 ribu per kilogram. Sedangkan bapareng (bakso petek goreng) seharga Rp 60 ribu per kilogram.

Kemudian ikan lunjar krispi Rp 120 ribu per kilogram. Olahan lainnya, ada kerupuk petek hingga udang krispi.

Semua Jawak alias jajanan iwak itu menjadi ikon baru Desa Sarimulyo.

Para ibu-ibu ini memanfaatkan dapur kecil milik Maryani. Dari yang awalnya sederhana, alat-alat yang mereka gunakan pun mulai mumpuni seiring berkembangnya usaha.

Dari awalnya hanya memanfaatkan perlengkapan dapur seadanya. Kini peralatan memasak hingga mesin spinner sudah ada.

"Ikannya juga dari waduk yang mencari suami-suami. Alhamdulillah kami bisa bantu suami," kata Maryani.

Dia menyebut, dalam satu hari bisa memproduksi paling banyak 10 kilogram Jawak.

"Selama ini penjualan sudah banyak. Omzet kami sebulan sudah Rp 3 juta untuk 13 anggota. Kami juga berani beli ikan ke nelayan seharga Rp 5 ribu per kilogram," tambahnya.

Selain ikan waduk, industri rumahan olahan ikan juga bisa ditemui di Kampung Lele di Dusun Mangkubumen, Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit.

Konsep budidaya perikanan komoditas lele mampu dimanfaatkan dari hulu ke hilir.

Tak hanya lele segar, usaha mikro kecil menengah (UMKM) olahan ikan juga tumbuh.

"Akhir 2017 itu, bapak (suami,Red) tidak bisa menjual lele yang ukurannya agak besar. Dijual ke pemancingan, tapi sepi. Akhirnya dari pada enggak terjual, saya coba buat olahan lele," ungkap Ketua Poklahsar Wien, Widarsih, 54.

Dari dapur rumah itu, dia menghasilkan tiga jenis keripik. Yakni, keripik sirip, kulit dan daging yang tahan tiga sampai empat bulan.

Dia juga membuat abon lele yang tahan hingga tujuh bulan.

Sementara olahan lele segar berupa nuget, bakso hingga pepes lele.

Tak sendirian, Winarsih juga mengajak ibu-ibu sekitar rumah untuk membantu proses produksi.

"Akhirnya bisa jadi oleh-oleh dan ciri khas Kampung Lele. Alhamdulillah rasanya cocok dan semakin banyak yang suka dengan olahan ikan," papar dia.

Produksi olahan ikan di Poklahsar Wien bisa mencapai 45 kilogram per hari.

"Bahkan abon lele bisa terjual hingga 1,2 kuintal per hari," tambahnya.

Ketua Kelompok Pelaku Utama Perikanan Karya Mina Utama Kampung Lele Tri Hardjono menerangkan, ada sekitar 1,5 ribu pelaku budidaya lele di Dusun Mangkubumen.

Produksi lele segar mencapai 12 ton per hari.

Petani ikan akan menyortir ikan sesuai ukuran minat di pasaran.

Jika ukurannya agar besar, maka akan disisihkan untuk tiga UMKM pengolahan lele.

Dari Hulu hingga Hilir

Menggoreng keripik lele di Kampung Lele di Dusun Mangkubumen, Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit.
Menggoreng keripik lele di Kampung Lele di Dusun Mangkubumen, Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit.

Berbagai macam olahan berbahan dasar lele menunjukan integrasi perikanan di kampung ini.

Proses hulu ke hilir dan pemasaran mampu mendongkrak nilai jual ikan-ikan.

Pemberdayaan masyarakat sekitar berjalan dan saling menguntungkan.

Para pelaku UMKM tak perlu khawatir kehabisan bahan baku. Begitu juga pelaku budidaya tak bingung menjual lele yang berukuran besar.

"Satu UMKM bisa habis setengah kuintal. Sekarang naik 750 kilogram sampai 1 kuintal. Karena peminat abon juga makin banyak. Istilahnya di sini, perikanan kampung lele sudah terintegrasi dari hulu ke hilir," terang Tri.

Terpisah, Kabid Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan Boyolali Nurul Nugroho menerangkan, produksi ikan di Kota Susu terus didongkrak. Baik melalui bantuan pakan, kolam, hingga alat tangkap.

Sumber ikan di Boyolali berasal waduk-waduk hingga kolam buatan.

Salah satu yang berhasil adalah Kampung Lele dengan produktivitasnya menyentuh 33 ribu ton per 2023.

Ketersediaan ikan ini menjadi solusi dalam pemenuhan protein hewani untuk mengatasi stunting.

Selain pengecekan kesehatan, intervensi gizi menjadi salah satu program pemerintah.

Salah satunya dari konsumsi olahan ikan yang menjadi sumber protein.

"Pada 2023 angka konsumsi ikan mencapai 24,01 kilogram per kapita per tahun. Ini sudah lumayan dibandingkan beberapa tahun lalu. Dulu cuma 18,6 kilogram per kapita per tahun," paparnya.

Hal itu juga selaras dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) Boyolali. Angka konsumsi ikan, udang, cumi dan kerang meningkat tiap tahunnya.

Rata-rata konsumsi protein per kapita sehari yakni 3,09 gram pada 2020.

Adapun pada 2021, rata-rata konsumsi protein dari ikan 3,22 gram per hari.

Kemudian dari daging sebesar 3,31 gram per hari pada 2020. Serta 4,75 gram per hari pada 2021.

Keberadaan olahan ikan berbasis industri rumahan ini membawa beragam manfaat.

Tak hanya untuk meningkatkan ekonomi bagi pelaku usaha. Namun, juga pemenuhan sumber protein hewani yang lebih menarik dan disukai anak-anak. (rgl/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#ikan #Boyolali #gizi #ikan lele #kampung lele #umkm #protein hewani #industri perikanan #abon lele