RADARSOLO.COM- Inovasi dikembangkan Kelompok Tani (Poktan) Sumber Agung 1, Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Boyolali dalam pengembangan pertanian jahe organik.
Memanfaatkan lahan subur pegunungan Merbabu, petani setempat menanam jahe menggunakan konsep pertanian organik sejak 2020.
Menurut Jumadi, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sumber Agung 1, masyarakat Dusun Jumbleng, Desa Banyuanyar, telah lama memanfaatkan lahan seluas 4 hektare untuk menanam jahe.
Seluruh proses pertanian dilakukan secara mandiri menggunakan pupuk organik yang dibuat dari limbah kotoran sapi.
"Awalnya, masyarakat diberi pelatihan membuat pupuk organik. Proses pemupukan, perawatan, hingga panen dilakukan secara swadaya oleh warga," terang Jumadi.
"Setelah pupuk siap, barulah program penanaman jahe organik dimulai," lanjutnya.
Masyarakat Banyuanyar tidak hanya memanfaatkan lahan pertanian. Tetapi juga menggunakan polibek sebagai media tanam.
Hasil panen dijamin 100 persen organik tanpa campuran bahan kimia.
Penanaman jahe di Dusun Blumbang dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketelitian.
Proses dimulai dengan menebar pupuk organik di permukaan tanah, lalu ditutup lapisan tanah tipis sebelum bibit jahe ditanam.
Tunas jahe baru akan muncul setelah 1,5 bulan masa tanam.
"Menanam jahe memang butuh kesabaran ekstra. Setelah 1,5 bulan, tunas baru akan muncul. Saat itu, pemeliharaan dilakukan dengan menyiangi gulma. Pemberian pupuk tambahan baru dilakukan pada usia 6 bulan," tambah Jumadi.
Baca Juga: Misteri Suara Ban Meletus di Jalur Tengkorak Jatibedug, Wonogiri: Pertanda Kecelakaan?
Masyarakat setempat menanam tiga jenis jahe, yaitu jahe emprit, merah, dan gajah.
Panen jahe gajah harus dilakukan pada usia 8-12 bulan, karena jika lebih dari itu, daging jahe bisa menjadi kopong dan membusuk.
Sementara, jahe emprit dan merah akan semakin matang dan melimpah seiring berjalannya waktu.
Kepala Desa Banyuanyar Komarudin menjelaskan, Kampung Jahe di desa tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sentra pertanian. Tetapi juga menjadi destinasi wisata edukasi.
Manajemen Kampung Jahe saat ini dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) agar lebih terarah dan berkelanjutan.
Ditambahkan Jumadi, sinergitas antara UMKM dan wisata edukasi sangat penting untuk pengembangan desa.
Dengan demikian, semua pihak, mulai dari ibu-ibu rumah tangga, karang taruna, hingga bapak-bapak petani, diharapkan dapat terlibat aktif dalam pengembangan desa wisata ini.
"Kami ingin mengedepankan Kampung UMKM. Kalau UMKM berjalan, wisata pun ikut berkembang. Sinergi antara semua pihak penting agar program ini terus berlanjut," tambahnya.
Keberhasilan Desa Banyuanyar dalam mengembangkan pertanian organik jahe ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
Tetapi juga menciptakan peluang baru di sektor pariwisata edukasi.
Dengan konsep yang matang dan dukungan dari berbagai pihak, Kampung Jahe Desa Banyuanyar diharapkan dapat menjadi contoh inspiratif bagi desa-desa lain di Boyolali. (rgl/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono