RADARSOLO.COM-Pemblokiran rekening UD Pramono oleh KPP Pratama Boyolali membuat 1.300 petani-peternak sapi perah di Boyolali dan Klaten kelimpungan.
Kebijakan KPP Pratama Boyolali tersebut menjadikan usaha dagang di Desa Singosari, Kecamatan Mojosongo, Boyolali kesulitan membeli susu petani.
Para petani-peternak sapi perah yang waswas belum lama ini mendatangi kantor KPP Pratama Boyolali guna meminta kejelasan.
Bukan hanya petani-peternak sapi perah, Pemkab Boyolali juga ikut turun tangan mencari solusi soal tunggakan pajak UD Pramono.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Boyolali Insan Adi Asmono mengaku telah menerima aduan keresahan petani-peternak sapi perah.
"Kami teruskan ke Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) untuk ditindaklanjuti dengan konfirmasi ke Pak Pramono dan kantor pajak," terangnya, Kamis (31/10/2024).
Pemkab mencoba memfasilitasi pertemuan untuk memediasi kedua belah pihak.
Baik UD Pramono maupun KPP Pratama Boyolali guna menjelaskan duduk permasalahan dari perspektif masing-masing.
"Sementara belum ada titik temu. Tetapi akan saling melakukan intropeksi, karena yang diajak rapat itu tidak semua punya hak untuk mengambil keputusan,” kata Insan.
“Saya berharap masalah ini bisa selesai. Kedua belah pihak bisa sama-sama bijaksana, yang punya kewajiban pajak juga ada iktikad baik,” lanjut dia.
Pemkab meminta KPP Pratama Boyolali lebih bijaksana.
Sebab, pemblokiran rekening UD Pramono berpengaruh kepada hajat hidup 1.300 petani-peternak sapi perah.
"Masih ada opsi-opsi yang dipertimbangkan masing-masing pihak. Pemerintah daerah tidak punya kewenangan apapun, hanya bisa memfasilitasikan pertemuannya. Kami masih berharap ini selesai dengan baik sehingga tidak merugikan petani," beber Insan.
Sementara itu, Pramono,67, bos UD Pramono mengapresiasi upaya Pemkab Boyolali mempertahanakn UD Pramono tetap beroperasi.
"Dinas peternakan memperjuangkan agar saya tetap jalan. Tetap buka, sementara. Nanti hasilnya bagaimana, nunggu perkembangan," ungkapnya.
Pramono mengaku, masalah pajak yang tak kunjung rampung ini membuatnya lelah.
Dia tidak memiliki kemampuan akutansi dan perpajakan. Ketika diminta untuk membayar pajak, dia berusaha patuh.
Selama ini, harga pembelian susu dari petani-peternak sapi perah di UD Pramono termasuk paling tinggi.
Keberadaan simpan-pinjam bagi petani, juga tak menarik bunga.
Saat ini, rekening UD Pramono senilai Rp 670 juta masih dibekukan oleh KPP Pratama Boyolali.
Menurut Pramono, uang itu milik mitra petani dan peternak.
Untuk menjamin agar hak-hak petani-peternak di masa rekening UD Pramono diblokir, Pramono telah menjual beberapa ekor sapinya membayar susu dari peternak.
"Saya sudah jual lima atau berapa ekor sapi. Ada yang (laku) Rp 35 juta, Rp 45 juta, Rp 14 juta ada berapa itu. Yang penting jalan dulu,” terangnya Pramono. (rgl/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono